Selasa, 13 Januari 2015

Pengertian Serta Alasan Merger dan Akuisisi Perusahaan

Penggabungan Usaha 


Merger dan Akuisisi - Pengertian penggabungan usaha adalah aktivitas ekspansi usaha atau perluasan usaha yang dilakukan suatu perusahaan dengan satu atau beberapa perusahaan kedalam satu entitas ekonomi (perusahaan) yang bertujuan untuk memperluas usaha.

Penggabungan usaha merupakan salah satu dari beberapa strategi dari aktivitas perluasan usaha yang banyak dilakukan, jamak terjadi dimanapun.

Dalam penggabungan usaha. ada dua pilihan yang bisa dipilih caranya. yaitu MERGER dan AKUISISI.
merger dan akuisisi
Merger dan Akuisisi

Pengertian Merger dan Akuisisi

Pengertian Merger
Penggabungan dua atau lebih perusahaan menjadi satu kesatuan perusahaan usaha dimana perusahaan membeli aset perusahaan lain dan perusahaan yang dibeli dibubarkan atau berhenti beroperasi.

Pengertian Akuisisi
Penggabungan dua tau lebih perusahaan menjadi satu kesatuan usaha dimana sebuah perusahaan membeli aset perusahaan lain (saham) dan perusahaan yang dibeli tidak dibubarkan alias TETAP ADA.
Untuk pembahasan lebih lanjut, silahkan bisa dibaca di:  MERGER dan AKUISISI

Alasan Merger dan Akuisisi


Penyebab suatu perusahaan melakukan penggabungan usaha ada banyak kemungkinannya.

Ada beberapa hal yang sering menjadi penyebabnya, antara lain:

  • Diversifikasi Usaha

Diversifikasi Usaha atau business diversification adalah salah satu strategi perusahaan untuk menguasai berbagai bidang usaha yang berbeda.
Diversifikasi usaha ini akan membuka peluang untuk memperoleh keuntungan yang lebih dari usaha lain.
Sekaligus meminimalkan resiko. Apabila usaha yang satu tak sesuai ekspektasi, ada kemungkinan usaha yang lain lagi mendongkrak kondisi perusahaan.

  • Investasi

Perusahaan melakukan investasi dengan membeli perusahaan yang profitable dan kemungkinan akan menambah pundi pundi perusahaan di masa yang akan datang.
Perusahaan memilih penggabungan usaha untuk berharap bahwa akan mendapat banyak keuntungan dimasa yang akan datang.

  • Peningkatan Skala Perusahaan

Peningkatan skala perusahaan adalah salah satu alasan lain mengapa dilakukan penggabungan usaha.
Terjadinya penggabungan usaha, akan menambah aset perusahaan
Jaringan (networking) dan jangkauan pasar juga akan semakin luas dari sebelumnya.
Dan pada ujungnya perusahaan akan mengalami peningkatan omset.

  • Mengurangi Resiko

Di dunia ini, tak ada satupun usaha yang tanpa resiko, sudah berlaku umum rumus high risk, high return.
Resiko tidak bisa dihilangkan dalam dunia bisnis, tapi resiko paling tidak masih bisa di manage.
Salah satu caranya adalah, dengan melakukan diversifikasi usaha.
Diversifikasi usaha dengan penggabungan usaha di luar bisnis utamanya adalah salah satu cara mengurangi resiko.

  • Mengontrol Kendali atas Persaingan atau Perusahaan Lain

Mungkin, dari sekian alasan diatas tadi, mungkin inilah alasan yang paling sering melatarbelakangi suatu perusahaan melakukan penggabungan usaha.
Beberapa kemungkinan yang menjadi alasan perusahaan ingin mengontrol kendali atas perusahaan lainnya.
1. Penetrasi pasar
    Perusahaan perusahaan besar yang terkadang sulit untuk memasuki suatu area pasar tertentu yang menjadi targetnya biasanya melakukan penggabungan usaha ini.
    Contohnya Philiph Moris, perusahaan rokok asal Amerika ingin memasuki pasar rokok di indonesia, sedangkan pasar rokok sudah memiliki budaya dan tradisi tersendiri, sehingga sulit bagi brand baru untuk masuk secara masiv di pasar indonesia
    Philiph moris akhirnya mengakuisis HM Sampoerna yang menjadi pemain utama di pasar rokok tanah air.
    Dengan penggabungan usaha ini. Philiph moris akhirnya bisa menjadi pemain utama di pasar rokok Indonesia juga Asia Tenggara.
    2. Keberlangsungan Supplay Bahan Baku
      Biasanya, perusahaan besar yang susah mendapatkan supplay raw material atau bahan baku yang sektor bisnis ini dikuasai oleh perusahaan lain, akan melakukan penggabungan usaha dengan perusahaan penyedia raw material tersebut.
      Bisa dengan membeli perusahaannya.
      Supaya suplay bahan baku yang dibutuhkan perusahaan itu terus bisa dikontrol dan terus mendapat suplay yang pasti akan kebutuhan bahan baku.
      3. Mengurangi Kompetitor
        Menguasai atau membeli perusahaan saingan adalah termasuk strategi yang banyak dilakukan untuk memenangi persaingan.
        Contoh perusahaan yang mengakuisisi perusahaan pesaingnya sudah seringkali terjadi. Anda tentu bisa mencarinya di Google.
        Contohnya, indofood yang pada tahun 2013 lalu mengakuisisi perusahaan bernama PT Indofood Mitra Bahari Makmur yang bermain di lini bisnis yang sama.
        Dan juga mengakuisis PT Tirta Bahagia yang bergerak pada industri Air minum kemasan.
        Demikianlah mengenai alasan alasan perusahaan melakukan penggabungan usaha, selanjutnya bahasan dilanjut dengan bentuk bentuk penggabungan usaha serta perlakuan akuntansinya.

        Tapi nanti, sabar dulu, nanti saya akan menulisnya di artikel lain karena keterbatasan waktu saya. :)


        Senin, 12 Januari 2015

        Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) | Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

        Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


        Dalam perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap. 

        Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya.

        Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.
        ekspenditure aktiva tetap
        Pengeluaran Aktiva Ekspenditure
        Tapi, Setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok). 

        Agar bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal. 

        Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.
        • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
        • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)

          Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya.
          Silahkan baca: Penyusutan

          Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


          Tadi sudah saya jelaskan, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang dilakukan.

          Nah pertanyaannya..

          Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN atau DIKAPITALISASI ?

          Mari kita lihat.

          Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

          # Pemeliharaan | Maintenance


          Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aset tetap berfungsi normal seperti biasanya

          Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan.

          Apakah boleh dikapitalisasi ?

          Ok, yang ini nanti saja :)
          Contoh Kasus Biaya Maintenance :
          Untuk memberikan Oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya
          Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

          Pengeluaran ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

          Debit | Office Maintenance 400.000
          Kredit | Cash 400.000


          # Perbaikan Aktiva Tetap | Repair


          Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana aktivitas ini lebih besar daripada aktivitas pemeliharaan (maintenance).

          Bila aktiva tetap tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu.

          Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva tetap tersebut menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tetap tersebut.
          Contoh Kasus :

          Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti Oli akan tetapi diketahui komponen saluran Oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya.

          Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,-

          Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC.

          Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :

          Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
          Debit | Office Maintenance 400.000
          Kredit | Cash 400.000


          Apakah boleh dikapitalisasi semua ?

          Sabar, tunggu dulu :)

          # Pergantian Komponen Aset 


          Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, aktivitas penggantian satu atau beberapa komponen dari aset tetap
          Contoh Kasus :

          Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah.
          Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah.
          Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,- 

          Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :

          Debit | Maintenance 70.000
          Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
          Kredit | Cash 1.545.000


          Mengapa tidak dikapitalisasi semua ?

          Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi?

          Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu :)

          # Pengangkatan Kapasitas 


          Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat.

          Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan.

          Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan.

          Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading)

          PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah.
          untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini.
          Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat.
          Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :
          Pembelian Besi 17.000.000
          Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
          Penadah Batu Bara 6.000.000
          Biaya Lain Lain 2.000.000

          Transaksi tersebut dicatat :

          Debit | Mesin 32.000.000
          Kredit | Cash 32.000.000

          # Turun Mesin | Overhaul


          Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin.

          Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi.

          Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali.

          Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut.

          Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering.

          Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut.

          Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut.

          Contoh Kasus Turun Mesin

          PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya.
          Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000.
          Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus.
          Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan.
          Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut

          Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :

          Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
          Kredit | Cash 8.000.000

          Notes :
          Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000

          Masalah berikutnya :
          • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
          • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
          • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
          • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?

              Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut :

              Selanjutnya perhitungan seperti dibawah ini :

              Sebelum Turun Mesin
              Harga Perolehan 50.000.000
              Umur Ekonomis 10 Tahun
              Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
              Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
              Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000

              Setelah Turun Mesin
              Akumulasi Penyusutan  37.000.000
              Nilai Buku 13.000.000
              Tambahan Umur Ekonomis 5
              Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
              Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
              Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000

              Keterangan
              Akumulasi Penyusutan 45.000.000 - 8.000.000
              Nilai Buku 50.000.000 - 37.000.000
              Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
              Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
              Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 - 2.600.000


              Dari sana kita lihat.

              Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8,000,000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8,000,000,

              Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8,000,000, sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah :
              Rp 45.000.000 - Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000
              Nilai Buku menjadi
              Rp 50.000.000 - 37.000.000 = Rp 13.000.000

              Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar :
              Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000

              5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi

              Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu :
              Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

              Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan


              Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak ?

              Wiper mobil harganya cuma 70 ribu.

              Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan.

              Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan,
              Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau di bebankan pada periode tersebut ?

              Tingkat Keseringan
              Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, sebaiknya pengeluaran tersebut dijadikan biaya saja pada saat periode terjadinya pengeluaran atas aktiva tersebut.

              Materialitas
              Apabila suatu pengeluaran dirasa cukup material, hendaknya pengeluaran tersebut dikapitalisasi, sedangkan bila tidak, berarti di bebankan.
              Cara mengetahui material tidaknya dengan membandingkan pengeluaran yang terjadi dengan harga perolehan aset tetapnya.
              Tingkat materialitas dari toko bangunan tentu berbeda dengan perusahaan tambang.
              5 juta mungkin nilai yang material bagi toko bangunan. tapi bisa jadi recehan bagi perusahaan tambang !

              Lama Manfaat
              Jika pengeluaran terhadap aktiva tetap tersebut diprediksi akan memberikan manfaat yang lama atau lebih dari satu tahun buku.
              Maka sebaiknya pengeluaran atas aktiva tersebut hendaknya di kapitalisasi,
              Dan jika kurang dari satu buku, hendaknya tidak.
              Tapi sangkut pautkan juga dengan materialitasnya.

              Pengaruhnya terhadap Lama Manfaat atau Kapasitas Aktiva Tetap
              Apabila pengeluaran atas aktiva tetap tersebut di perkirakan memperpanjang umur atau meningkatkan kapasitas aktiva, hendaknya di kapitalisasi.
              Dan demikian sebaliknya.

              Bagaimana ?

              Sudah ada gambaran ?

              Semoga artikel ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi yang membacanya  :)
              Jika dirasa artikel ini bagus dan berguna.. silahkan untuk di share :)


              Akuntansi Peralatan Kecil | Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

              Akuntansi Peralatan Kecil


              Peralatan kecil bagi perusahaan sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pekerjaan, apalagi jenis perusahaan manufaktur yang kegiatan utamanya menggunakan mesin, pasti menggunakan peralatan peralatan kecil sebagai pendukung kelancaran operasional perusahaan.

              Bahkan. perusahaan yang tidak menggunakan mesinpun juga memerlukan peralatan kecil untuk kelancaran pekerjaan kantornya.

              Disetiap operasional perusahaan, pasti kita dapatkan peralatan kecil yang digunakan oleh perusahaan.

              Peralatan kecil banyak sekali jenisnya, tergantung juga perusahaannya apakah memerlukan atau tidak memerlukan.

              Namun ada beberapa karakteristik dari peralatan kecil yang bisa kita kenali.

              Berikut diantarnya:

              peralatan kecil
              Peralatan Akuntansi

              Karakteristik Peralatan Kecil


              Dilihat dari fungsinya
              Peralatan kecil tidak bisa menghasilkan barang atau jasa secara langsung, tapi memerlukan equipment yang lain, karena peralatan kecil fungsinya hanya sebagai penunjang operasional.
              Dilihat dari Umur Ekonomisnya
              Nilai Umur Ekonomis peralatan kecil biasanya melebihi satu (1) tahun buku akuntansi
              Dilihat dari Nilainya
              Peralatan kecil nilainya dalam perusahaan biasanya tidak material
              Contohnya seperti gunting, steples, obeng, meteran, penggaris dan lain sebagainya


              Karakter dari peralatan kecil yang seperti ini terkadang membikin kita bingung dalam bagaimana perlakuan akuntansinya !

              Kita atau banyak perusahaan yang mencatat peralatan kecil sebagai biaya.

              Melihat dari tingkat ke-materialitas-nya yang relatif tidak mahal. peralatan kecil memang banyak yang dikelompokkan kedalam biaya pada periode peralatan tersebut diperoleht karena melihat tingkat nilai material dari peralatan kecil ini.

              Misalnya biaya pembelian dongkrak, obeng atau pun penggaris banyak yang mencatatnya sebagai "biaya Peralatan". 

              Akan tetapi, dengan perlakuan akuntansi seperti itu, faktor umur ekonomis peralatan kecil yang melebihi 1 satu tahun buku bahkan ada yang bertahun tahun bila dirawat dengan baik menjadi terabaikan.

              Matching principle akuntansi menjadi tidak sesuai lagi jika memperlakukannya sebagai biaya.

              Namun, jika peralatan kecil kita masukkan ke kelompok aktiva tetap, bagaimana cara membebankan nantinya ?

              Bukankan nilai peralatan kecil ini nilainya relatif kecil ?

              Bisa membuat susah nantinya apalagi untuk perusahaan besar karena pasti ada ratusan hingga ribuan peralatan kecil yang digunakan.

              Akan sangat merepotkan menghitungnya.

              Lalu Bagaimana memperlakukan Peralatan Kecil?

              Saya kira ada dua penekanan yang bisa kita lakukan.

              Pertama kita lihat umur ekonomis peralatan kecil tersebut

              Lalu kemudian kita lihat nilai gabungan dari beberapa peralatan kecil tersebut.

              Telaah Umur Ekonomis Peralatan Kecilnya
              Pertimbangkan umur ekonomisnya terlebih dahulu, jika umur ekonomis peralatan kecil tersebut kurang dari 1 (satu) tahun buku, maka jelas kita langsung saja mengakuinya sebagai beban atau dibebankan pada periode yang sama saat peralatan tersebut diperoleh.
              Namun apabila peralatan kecil tersebut mempunyai umur atau masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun buku akuntansi, maka peralatan kecil ini "berpotensi" untuk dikelompokkan dalam aset tool & equipment.
              Ingat. "berpotensi" !
              Tapi hal ini masih memerlukan pertimbangan selanjutnya.
              Lihat nilai gabungan peralatan kecilnya !
              Pertimbangan yang diperlukan kedua adalah apabila peralatan kecil tersebut digabungkan dengan peralatan kecil yang lain, yang umurnya juga melebihi satu tahun buku dan nilai gabungannya menjadi nilai yang material
              Maka kita dapat mengelompokkan peralatan peralatan kecil tersebut ke dalam aset (peralatan dan perlengkapan).
              Untuk perusahaan kecil atau baru beroperasi mungkin belum banyak peralatan kecil yang digunakan, maka yang menjadi pertimbangan adalah potensi penggunaan peralatan kecil di masa mendatang karena mungkin saat ini peralatan nya jika digabungkan sekalipun nilainya tidak akan material,
              Tapi di masa yang akan datang, bisa saja peralatan peralatan kecil tersebut akan sangat signifikan nilai gabugannya.

              Membebankan Peralatan Kecil Gabungan


              Pembebanan peralatan kecil gabungan dilakukan menjelang penutupan buku dengan melakukan perhitungan fisik terhadap peralatan kecil gabungan tersebut.

              Jika pembebanan peralatan gabungan dilakukan dengan menyusutkan secara satu persatu dengan menggunakan metode garis lurus misalnya maupun saldo menurun tidaklah efektif..

              Saldo Awal peralatan kecil tersebut adalah nilai total pembelian atau semua yang dikeluarkan saat perolehan peralatan kecil tersebut.

              Sedangkan saldo akhir atau nilai buku dari peralatan kecil tersebut adalah hasil perhitungan fisik peralatan kecil tersebut.

              Dengan begitu, maka peralatan yang terpakai nilainya bisa ditentukan.

              Contoh

              Nama Peralatan Jml awal
              Jml akhir
              Terpakai
              Harga satuan
              Nilai Terpakai
              Nilai Buku
              Steples 50 20 30 20.000,- 600.000,- 400.000,-
              Penggaris 75 30 45 5.000,- 225.000,- 150.000,-
              Total








              825.000,-
              550.000,-

              Dari daftar di atas, kita bisa membuat pencatatan seperti ini :

              Debit | Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000
              Kredit | Akumulasi Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000


              Ok, Bisa dicerna kan ?

              Jika masih sulit dipahami, silahkan ditanyakan pada kolom komentar.

              Demikian pembahasan mengenai akuntansi peralatan kecil, jika dirasa bermanfaat, silahkan di share 


              Penjualan Aktiva Tetap | Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset

              Penjualan Aset Tetap


              Penarikan Aktiva - Dalam kondisi kondisi tertentu, suatu perusahaan menghadapi kondisi yang tak biasa dalam operasinya hingga mengharuskan atau memutuskan untuk melakukan PENJUALAN ASET TETAP.

              Padahal, tujuan awal perusahaan dalam membeli aset tetap tersebut adalah untuk digunakan dalam operasi perusahaan selama umur manfaat ekonominya demi mempertahankan kelangsungan usaha, baik itu untuk tempat, peralatan, untuk produksi maupun kegunaan lainnya.

              Intinya aset tetap pada awalnya tidak ditujukan untuk di jual kembali.
              Penghapusan Aktiva
              Penghapusan Aktiva Tetap
              Dalam kondisi tertentu, banyak alasan perusahaan harus memutuskan untuk melakukan penjualan aset tetap, kondisi kondisi seperti:
              • Perusahaan berganti jenis produk, sehingga mesin atau peralatan tertentu tidak dapat digunakan dan mubazir
              • Membutuhkan dana atau kekurangan dana, untuk bayar utang atau modal kerja
              • Perusahaan ditutup karena alasan tertentu dan tidak berproduksi kembali
              • Upgrade aktiva tetap, misal mobil yang sudah tua tua yang maintenance mahal diganti dengan yang baru, atau komputer yang sudah tidak mendukung lagi diganti dengan yang lebih canggih
               
                Penjualan Aktiva Tetap merupakan salah satu jenis penarikan aktiva.

                Bagaimana prosedur dan Perlakuan akuntansi nya?

                Perlakuan Akuntansi Pejualan Aset Tetap


                Dua langkah yang dilakukan dalam prosedur penjualan aset tetap:
                1. Update Nilai Buku Aset Tetap yang dijual
                2. Hapus Aset Tetap
                Tentu juga dengan beberapa beberapa langkah detilnya

                Contoh Kasus:
                Pada tanggal 6 Juli 2015, PT.Bunaji menjual mesin produksi-nya dengan harga Rp 150.000.000.
                Mesin ini di beli pada 02 February 2012 dan saat itu harga pembeliannya menghabiskan Rp 240.000.000.
                Beberapa catatan tambahan:
                PT. Bunaji memakai metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan aset tetap tanpa nilai sisa (nilai residu)
                Mesin diperkirakan memiliki umur ekonomis 10 Tahun.
                Berikut posisi Aset Mesin PT Bunaji per 31 Des 2014:

                Harga Perolehan = Rp 240.000.000
                Akumulasi penyusutan = (Rp.70.000.000)
                ----------------------------------------
                Nilai Buku Mesin = Rp 170.000.000



                Langkah Langkahnya:

                # 1. Update Nilai Buku Aset Tetap 

                • Menghitung penyusutan dari tangal 01 Januari – 6 Juli 2015
                Mesin di jual tanggal 6 Juli 2015, dimana tanggal 6 belum melewati setengah bulan, maka untuk bulan Juli dianggap mesin belum digunakann selama 1 bulan penuh, dan bulan juli penyusutan tidak perlu di hitung
                Penyusutan hanya dihitung hingga bulan juni saja.
                Penyusutan 1 Jan – 6 Juli 2015 :
                6/12 x (240.000.000/10) = Rp 12.000.000
                Lalu jurnal beban penyusutan tersebut :


                Depreciation Rp12.000.000

                Accum.Deprec Rp12.000.000

                Jurnal tersebut menambah biaya penyusutan dan menambah akumulasi penyusutan mesin sebesar Rp 12.000.000

                Sehingga "Accum Deprec Mesin" per tanggal 6 Juli 2015 adalah sebagai berikut :
                Accum Deprec per 31 Dec 2014 + Accum Deprec 01 Jan - 6 Juli '15 
                Rp 70.000.000 +  Rp 12.000.000
                = Rp 82.000.000
                Dan nilai Buku Aktiva Tetap Mesin per 6 Juli 2015 adalah :
                Rp 240.000.000 – Rp 82.000.000 = Rp 158.000.000


                Langkah berikutnya adalah penghapusan

                # 2. Penghapusan Aktiva Tetap Mesin


                Aset Tetap Mesin dihapus dengan jurnal :

                Kas / Piutang 150.000.000
                Accum Deprec Mesin 82.000.000
                Rugi Penjualan Aktiva 8.000.000
                Aktiva Tetap Mesin 240.000.000

                Notes:
                • Menghapus Aset Tetap Mesin dan juga akumulasi penyusutannya. penghapusan ini terjadi karena posting aset tetap mesin dimasukkan di kredit dan akumulasi penyusutan dicatat ke sisi Debit.
                • Mencatat kas masuk/mengakui piutang sebesar harga penjualan, 
                Jika transaksi penjualannya dibayar tunai, maka akun kas yang di pakai, tetapi jika opsinya penjualan secara kredit, maka piutang yang dipakai.
                • Mengakui Rugi penjualan aset tetap mesin sebesar selisih nilai buku terbaru/terupdate dengan harga nilai penjualan
                 
                    Bagaimana jika aset tetap dijual dengan harga diatas nilai buku aktiva setelah di update?

                    Ya tinggal di balik saja jurnalnya, dari rugi menjadi akun Laba

                    # 3. Pelaporan laba-rugi Penjualan Aset Tetap

                    Laba/Rugi Penjualan Aset Tetap dilaporkan dalam Laporan Laba Rugi, didalam klasifikasi Pendapatan Lain lain.

                    Apabila ada kesalahan atau kekeliruan pada tulisan, penjumlahan dan yang lainnya pada tulisan ini, silahkan tinggalkan komentar :)

                    Minggu, 11 Januari 2015

                    Contoh Kasus Etika Profesi Akuntansi

                    Di dalam dunia akuntansi. akuntan mempunyai suatu etika yang harusnya dipatuhi dan dijalankan oleh setiap anggota. Kode Etik IkatanAkuntan Indonesia ditujukan untuk digunakan sebagai panduan serta aturan bagi selmua anggota, ntah itu anggota yang berpraktek menjadi akuntan publik, terjun ddidalam lingkungan dunia bisnis/usaha, instansi pemerintahan, ataupun berada di lingkup pendidikan dalam memenuhi tanggungjawab profesionalnya. baca: Etika Profesi Akuntansi
                    Namun, pada dunia nyata, pelanggaran atas etika etika yang sudah ditetapkan keraplah terjadi, berikut beberapa contoh kasus etika profesi akuntansi yang pernah terjadi yang saya kutip dari beberapa media, terutama media online.

                    Kasus Etika Profesi Akuntansi 1 | Kasus PT Muzatek Jaya 2004

                    Kasus pelanggaran atas Standar Profesional Akuntan Publik, muncul kembali. Menteri Keuangan langsung memberikan sanksi pembekuan.
                    Menkeu Sri Mulyani telah membekukan ijin AP (Akuntan Publik) Drs Petrus M. Winata dari KAP Drs. Mitra Winata dan Rekan selama 2 tahun yang terhitung sejak 15 Marit 2007, Kepala Biro Hubungan Masyaraket Dep. Keuangan, Samsuar Said saat siaran pers pada Selasa (27/3), menerangkan sanksi pembekuan dilakukan karena AP tersebut melakukan suatu pelanggaran atas SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik).  
                    Pelanggaran tersebut berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan audit terhadap Laporan Keuangan PT. Muzatek Jaya pada tahun buku 31 December 2004 yang dijalankan oleh Petrus. Dan selain itu Petrus juga melakukan pelanggaran terhadap pembatasan dalam penugasan audit yaitu Petrus malaksanakan audit umum terhadap Lap. keuangan PT. Muzatek Jaya dan PT. Luhur Arta Kencana serta kepada Apartement Nuansa Hijau mulai tahun buku 2001. hingga tahun 2004.

                    Kasus Etika Profesi Akuntansi 2 | Kasus PT KAI 2006

                    Komisaris PT KAI (Kereta Api Indonesia) mengungkapkan bahwa ada manipulasi laporan keuangan dalam PT KAI yang seharusnya perusahaan mengalami kerugian tetapi dilaporkan mendapatkan keuntungan.
                    “Saya mengetahui ada sejumlah pos-pos yang seharusnya dilaporkan sebagai beban bagi perusahaan tapi malah dinyatakan sebagai aset perusahaan, Jadi disini ada trik-trik akuntansi,” kata Hekinus Manao, salah satu Komisaris PT. KAI di Jakarta, Rabu.
                    contoh kasus etika akuntansi
                    contoh kasus etika profesi akuntansi
                    Dia menyatakan, hingga saat ini dirinya tidak mau untuk menandatangani laporan keuangan tersebut karena adanya ketidak-benaran dalam laporan keuangan itu
                    “Saya tahu bahwa laporan yang sudah diperiksa akuntan publik, tidak wajar karena sedikit banyak saya mengerti ilmu akuntansi yang semestinya rugi tapi dibuat laba,” lanjutnya.
                    Karena tidak ada tanda-tangan dari satu komisaris PT KAI, maka RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) PT Kereta Api harus dipending yang seharusnya dilakukan pada awal Juli 2006.

                    Kasus Etika Profesi Akuntansi 3 | Kasus Kredit Macet BRI Cabang Jambi 2010

                    Kredit Macet Hingga Rp. 52 Miliar, Akuntan Publik Diduga Terlibat. 
                    Seorang akuntan publik yang menyusun laporan keuangan Raden Motor yang bertujuan mendapatkan hutang atau pinjaman modal senilai Rp. 52 miliar dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Jambi pada tahun 2009 diduga terlibat dalam kasus korupsi kredit macet. Terungkapnya hal ini setelah Kejati Provinsi Jambi mengungkap kasus tersebut pada kredit macet yang digunakan untuk pengembangan bisnis dibidang otomotif tersebut. Fitri Susanti, yang merupakan kuasa hukum tersangka Effendi Syam, pegawai BRI Cabang Jambi yang terlibat kasus tersebut, Selasa [18/5/2010] menyatakan, setelah klien-nya diperiksa dan dicocokkan keterangannya dengan para saksi-saksi, terungkap adaa dugaan keterlibatan dari Biasa Sitepu yang adalah sebagai akuntan publik pada kasus ini.

                    Hasil pemeriksaan yang kemudian dikonfrontir keterangan tersangka dengan para saksi Biasa Sitepu, terungkap ada terjadi kesalahan dalam pelaporan keuangan perusahaan Raden Motor dalam pengajuan pinjaman modal ke BRI Cabang Jambi.
                    Ada 4 aktivitas data pada laporan keuangan tersebut yang tidak disajikan dalam laporan oleh akuntan publik sehingga terjadi kesalahan dalam proses kreditnya dan ditemukan dugaan korupsi-nya

                    “Ada 4 aktivitas laporan keuangan Raden Motor yang tidak dimasukan kedalam laporan keuangan yang diajukan ke Bank BRI, hingga menjadi sebuah temuan serta kejanggalan dari pihak kejaksaan untuk mengungkap kasus kredit macet ini.” tegas Fitr. Keterangan serta fakta tsb. terungkap setelah tersangka Effendi Syam, diperiksa dan dibandingkan keterangannya dengan keterangan saksi Biasa Sitepu yang berperan sebagai akuntan publik dalam kasus ini di Kejati Jambi. Seharusmya data-data laporan keuangan Raden Motor yang diajukan harus lengkap, tetapi didalam laporan keuangan yang diberikan oleh tersangka Zein Muhamad sebagai pimpinan Raden Motor ada data-data yang diduga tidak disajikan dengan seharusnya dan tidak lengkap oleh akuntn publik.

                    kasus etika akuntansi
                    contoh kasus etika profesi akuntansi
                    Tersangka Effendi Syam berharap penyidik di Kejati Jambi bisa melaksanakan pemeriksaan dan mengungkap kasus secara adil dan menetapkan pihak pihak yang juga terlibat dalam kasus tersebut, sehingga semuanya terungkap. Sementara itu, penyidik Kejaksaan masih belum mau berkomentar lebih banyak atas temuan tersebut.

                    Kasus kredit macet itu terungkap, setelah pihak kejaksaan menerima laporan tentang adanya penyalah-gunaan kredit yang diajukan oleh tersangka Zein Muhamad sebagai pemilik Raden Motor. Sementara ini pihak Kejati Jambi masih menetapkan 2 tersangka, yaitu Zein Muhamad sebagai pemilik Raden Motor yang mengajukan kredit dan Effedi Syam dari pihak BRI cabang jambi sebagai pejabat yang menilai pengajuan sebuah kredit.
                    sumber: kompas.com

                    Kasus Etika Profesi Akuntansi 4 | Mulyana W Kusuma - Anggota KPU 2004

                    Kasus anggota KPU ini terjadi pada tahun 2004, Mulyana W Kusuma yan menjadi seorang anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum) diduga telah menyuap anggota BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang ketika itu melaksanakan audit keuangan terhadap pengadaan logistik pemilu. Logistik pemili tersebut berupa kotak suara, amplop suara, surat suara, tinta, serta tekhnologi informasi. Setelah pemeriksaan dilaksanakan, BPK meminta untuk dilakukan suatu penyempurnaan laporan. Setelah penyempurnaan laporan dilakukan, BPK menyatakan bahwa laporan yang dihasilkan lebih baik dari laporan sebelumnya, kecuali mengenai laporan teknologi informasi. Maka disepakati laporan akan dilakukan periksaan kembali satu (1) bulan setelahnya.
                    kode etik akuntansi contoh kasus
                    pelanggaran kode etik akuntansi
                    Setelah satu bulan terlewati ternyata laporannya tak kunjung selesai dan akhirnya diberikan tambahan waktu. Di saat penambahan waktu ini terdengar kabar mengenai penangkapan Mulyana W Kusuma. Dia ditangkap karena tuduhan akan melakukan tindakan penyuapan kepada salah satu anggota tim auditor dari BPK, yaitu Salman Khairiansyah. Tim KPK bekerja sama dengan pihak auditor BPK dalam penangkapan tersebut. Menurut Khoiriansyah, dia bersama Komisi Pemberantas Korupsi mencoba merangkap usaha penyuapan yang dilakukan oleh Mulyana menggunakan perekam gambar pada 2 kali pertemuan.
                    Penangkapan Mulyana ini akhirnya menimbulkan pro-kontra. Ada pihak yang memberikan pendapat Salman turut berjasa dalam mengungkap kasus ini, tetapi lain pihak memberikan pendapat Salman tak sewajarnya melakukan tindakan tersebut karena hal yang dilakukan itu melanggar kode etik.

                    Kasus Etika Profesi Akuntansi 5 | Kasus Malinda Dee - Citibank

                    Malinda Memalsukan Tandatangan Nasabah
                    Malinda Dee, 47 tahun, Terdakwa atas kasus pembobolan dana Citybank, terbukti diketahui memindahkan beberapa dana nasabah dengan memalsukan tandatangan nasabah didalam formulir transfer. Kejadian ini terungkap didalam dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam sidang perdana di PN Jakarta Selatan, Selasa [8/11/2011]. "Sebagian tandatangan yang tertera pada blangko formulir transfer adalah tanda-tangan nasabah." ujar Tatang Sutarma, Jaksa Penuntut Umum.
                    pelanggaran etika akuntansi
                    pelanggaran etika akuntansi
                    Malinda berhasil memalsukan tandatangan Rohli bin Pateni. Pemalsuan dilakukan hingga 6 kali pada formulir transfer Citibank nomor AM 93712 yang bernilai 150.000 dollar AS pada tanggal 31 Agustus 2010. Pemalsuan tanda tangan dilakukan juga di formulir nomor AN 106244 yang dikirim ke PT. Eksklusif Jaya Perkasa sebesar Rp. 99 juta. Dalam transaksi transfer ini, Malinda  dee menulis "Pembayaran Bapak Rohli untuk pembayaran interior", pada kolom pesan.
                    Pemalsuan tanda tangan yang lain pada formulir nomor AN 86515 tanggal 23 Desember 2010 dengan penerima PT. Abadi Agung Utama. "Penerima Bank Artha Graha senilai Rp. 50 juta dan pada kolom pesan tertulis DP pembelian unit 3 lantei 33 combin unit." baca jaksa penuntut umum. Juga dengan menggunakan nama serta tanda-tangan palsu Rohli, Malinda Dee mengirim uang sebesar Rp. 250 juta pada formulir AN 86514 kepada PT. Samudera Asia Nasional tanggal 27 December 2010 dan AN 61489 sebesar nilai yang sama pada tanggal 26 January 2011. Pun pemalsuan dalam formulir AN 134280 pengiriman kepada Rocky Deany C. Umbas senilai Rp. 50 juta tanggal 28 January 2011 pembayaran pemasangan CCTV, milik Rohli.
                    Adapun tanda-tangan palsu beratas nama korban N. Susetyo Sutadji dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu dalam formulir Citibank No AJ 79026, AM 122339, AM 122330, AM 122340, dan juga AN 110601. Malinda mengirim uang senilai Rp. 2 miliar kepada PT. Sarwahita Global Management, Rp. 361 juta kepada PT. Yafriro International, Rp. 700 juta kepada Leonard Tambunan. Dan 2 transaksi yang lain sebesar Rp. 500 juta dan Rp 150 juta dikirimkan kepada Vigor AW. Yoshuara secara berurutan.
                    "Hal ini telah sesuai dengan keterangan saksi Rohli dan N. Susetyo Sutadji dan saksi Surjati T. Budiman serta telah sesuai BAP (Berita Acara Pemeriksaan) Labaratoris Kriminalistis Bareskrim Polri." jelasnya. Pengiriman uang serta pemalsuan tanda-tangan ini tidak  di sadari oleh ke-2 nasabah tersebut.  
                    sumber kompas.com 
                    demikian contoh kasus etika profesi akuntansi, sudah selayaknya aturan diperketat untuk memenuhi kualitas hasil seorang akuntan

                    Etika Profesi Akuntansi

                    etika profesi akuntan
                    etika profesi akuntansi

                    Etika Profesi Akuntansi


                    Dalam dunia lembaga akuntansi, ada yang namanya kode etik profesi akuntansi, seorang akuntan profesional harus memiliki Etika Profesi Akuntansi.

                    Di Indonesia, kode etik ini di gawangi oleh organisasi profesi akuntansi, Ikatan Akuntan Indonesia ( IAI )

                    Tujuan dari kode etik profesi akuntansi ini diantaranya adalah :
                    • Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
                    • Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
                    • Untuk menjunjung tinggi martabat profesi
                    • Untuk meningkatkan mutu profesi.
                    • Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
                    • Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
                    • Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
                    • Menentukan baku standar

                    .Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia, meliputi 3 bagian:
                    1. Prinsip Etika,
                    2. Aturan Etika, dan
                    3. Interpretasi Aturan Etika

                    Prinsip Etika memberikan dasar kerangka bagi aturan etika yang mengatur suatu pelaksanaan jasa profesionall oleh anggota.

                    Prinsip Etika disahkan oleh kongres serta berlaku untuk seluruh anggotanya

                    Sedangkan Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan mengikat hanya kepada anggota Himpunan yang bersangkutan.

                    Interpretasi Aturan Etika adalah interpretasi yang ditetapkan oleh Badan yang di bentuk oleh Himpunan setelah mendengarkan/memerhatikan tanggapan dari anggota dan juga pihak berkepentingan yang lain

                    Kemudian digunakan sebagai panduan menerapkan Aturan Etika tanpa bermaksud untuk membatasi lingkup dan juga penerapan nya.

                    Prinsip Etika Profesi Akuntan


                    1.      Tanggung Jawab Profesi.
                    Ketika melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang profesional, setiap anggota harus mempertimbangkan moral dan juga profesional di dalam semua kegiatan yang dilakukan.
                    2.      Kepentingan Publik,
                    Setiap anggota harus senantiasa bertindak dalam krangka memberikan pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan yang diberikan publik, serta menunjukkan komitmen nya sebagai profesional.
                    3.      Integritas
                    Untuk meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota wajib memenuhi tanggung jawabnya sebagai profesional dengan tingkat integritas yang setinggi mungkin
                    4.      Obyektivitas
                    Setiap anggota berkwajiban untuk menjaga tingkat ke-obyektivitas-nya dan terbebas dari benturan-benturan kepentingan dalam menjalankan tugas kewajiban profesional
                    5.      Kompetensi dan sifat kehati-hatian profesional
                    Setiap anggota wajib menjalankan jasa profesional dengan kehati hatian, kompetensi dan ketekunan
                    Juga berkwajiban untuk mempertahankan keterampilan profesional pada tingkatan yang dibutuhkan
                    Ini untuk memastikan bahwa klien mendapatkan manfaat dari jasa profesional yang diberikan dengan kompeten berdasar pada perkembangan praktik, legislasi serta teknik yang mutakhir.
                    6.      Kerahasiaan
                    Anggota harus menghormati kerahasiaan informasi selama melaksanakan jasa profisional
                    Tidak boleh menggunakan atau mengungkapkan informasi tersebut jika tanpa persetujuan terlebih dahulu
                    Kecuali memiliki hak atau kewajiban sebagai profesional atau juga hukum untuk mengungkapkan informasinya.
                    7.      Perilaku Profesional
                    Tiap anggota wajib untuk berperilaku konsisten dengan reputasi yang baik dan menjauhi kegiatan/tindakan yang bisa mendiskreditkan profesi.
                    8.      Standar Teknis
                    Anggota harus menjalankan jasa profesional sesuai standar teknis dan standar profesional yang berhubungan/relevan.
                    Setiap anggota wajib untuk melaksanakan penugasan dari klien selama penugasan tersebut tidak berseberangan dengan prinsip integritas dan prinsip objektivitas

                    Dalam kode etik yang telah disebutkan pada Etika Profesi Akuntansi sudah diatur bagaimana para akuntan harus bertindak.

                    Namun pada kenyataan, penyimpangan oleh para akuntan banyak terjadi.

                    Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan tentu saja berdampak buruk terhadap nama baik maupun tingkat kredibilitas akuntan dimata publik. 

                    Silahkan baca juga: Contoh Kasus Etika Profesi Akuntansi yang pernah terjadi, pelanggaran pelanggarannya dan yang lainnya.


                    Sabtu, 10 Januari 2015

                    Siapa Pengguna Laporan Keuangan?

                    Laporan Keuangan bisa dibilang wajib hukumnya untuk perusahaan perusahaan skala besar menengah bahkan skala kecil. begitu banyak pihak yang membutuhkannya.

                    Siapa saja pengguna laporan keuangan ?

                    Umumnya, pihak pihak yang membutuhkan laporan keuangan akuntansi dikelompokkan ke dalam 2 kelompok

                    Pertama dari INTERNAL perusahaan itu sendiri

                    Kedua dari EKSTERNAL perusahaan atau pihak yang berada diluar perusahaan.

                    Pengguna Laporan Keuangan
                    Pengguna Laporan Keuangan

                    A. Pihak Internal Perusahaan


                    Pihak internal perusahaan merupakan pihak yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas operasional perusahaan.

                    Terutama oleh manajer, manajer dalam divisi apapun itu !

                    Laporan keuangan akuntansi sangat penting bagi manajer.

                    Laporan keuangan digunakan untuk mengambil keputusan kebijakan dalam operasi perusahaan bagi seorang manajer.

                    Baik itu keputusan keputusan strategis perusahaan dan rencana rencana yang akan dijalankan untuk memaksimalkan keuntungan.

                    Semuanya berasal dari laporan keuangan sebagai bahan dasarnya.

                    B. Pihak Eksternal Perusahaan


                    Pengguna laporan keuangan dari eksternal perusahaan ini banyak sekali.

                    Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dirilis oleh IAI tahun 2002:2-3, pengguna laporan keuangan dari luar perusahaan berikut diantaranya:
                    • Investor
                    Seorang investor atau penanam modal dalam perusahaan juga dengan para penasihatnya berkepentingan mengetahui hasil dari investasi mereka,
                    Juga dengan segala resiko yang melekat dan mungkin akan ditimbulkan dari investasi yang telah mereka keluarkan untuk perusahaan.
                    Kepentingannya sangat sederhana, mendapatkan laba.
                    Dan juga memutuskan apakah mereka tetap akan menjadi investor, mengurangi jumlah kepemilikan saham atau bahkan menarik diri (menjual saham) dari perusahaan.
                    Investor juga tertarik dengan informasi mengenai kemampuan perusahaan dalam membayar deviden untuk mereka.
                    • Karyawan
                    Karyawan perusahaan atau kelompok yang mewakili suara mereka juga membutuhkan informasi mengenai tingkat profitabilitas dan tingkat kestabilitas perusahaan.
                    Karyawan ingin tahu informasi untuk mengetahui kemampuan perusahaan-nya dalam memberikan tingkat upah atau gaji mereka.
                    Karyawan juga ingin tahu tentang informasi kesempatan kerja dan informasi manfaat pensiun.
                    • Kreditur
                    Pemberi pinjaman atau kreditur ingin tahu apakah pinjaman yang telah mereka berikan dan juga bunganya bisa dibayarkan ketika sudah jatuh tempo nanti.
                    Pemberi pinjaman ini bisa Bank atau lembaga bukan Bank atau individu dan entitas lainnya.
                    • Pemasok (rekanan) dan kreditor usaha 
                    Pemasok atau rekanan seperti pemasok bahan baku bagi perusahaan menggunakan laporan keuangan untuk mengambil keputusan apakah jumlah nominal yang terutang akan terbayar saat tiba jatuh tempo nanti.
                    Kreditor usaha memerlukan informasi untuk kepentingan apabila perusahaan yang diutangi adalah pelanggan utama perusahaan pemasok, dan kelangsungan hidup pemasok ini tergantung pada mereka.
                    • Pemerintah
                    Kepentingan pemerintah dominan berkaitan dengan pajak,
                    Pemerintah butuh laporan keuangan perusahaan untuk mengatur aktivitasnya, menyusun data data statistik untuk kepentingan negara tentunya.
                    Dan yang utama adalah menetapkan kebijakan pajaknya.
                    Akuntansi yang digunakan di sini berbeda antara laporan akuntansi keuangan perusahaan, biasa disebut dengan Akuntansi Perpajakan
                    • Pelanggan
                    Jika suatu pelanggan terlibat dalam suatu perjanjian jangka panjang dengan perusahaan, mereka juga membutuhkan informasi tentang kelangsungan hidup perusahaan
                    • Masyarakat
                    Sebuah perusahaan bisa memberi pengaruh terhadap masyarakat dalam beberapa cara
                    Contohnya jumlah orang yang menjadi pekerja di perusahaan, perlindungan untuk penanam modal dalam negeri.
                    Informasi keuangan perusahaan bisa membantu masyarakat menyediakan info atau trend perkembangan terakhir tentang rangkaian aktivitas perusahaan..
                    • Tukang Parkir
                    Nah yang satu ini sepertinya tidaktermasuk.. hehe intemezo saja :)
                    Ok, demikian tentang Siapa Pengguna Laporan Keuangan, bisa ditambahkan sendiri jika dirasa ada pihak lain yang belum disebutkan.