Tampilkan postingan dengan label Aktiva. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktiva. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2015

Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) | Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


Dalam perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap. 

Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya.

Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.
ekspenditure aktiva tetap
Pengeluaran Aktiva Ekspenditure
Tapi, Setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok). 

Agar bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal. 

Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.
  • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
  • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)

    Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya.
    Silahkan baca: Penyusutan

    Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


    Tadi sudah saya jelaskan, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang dilakukan.

    Nah pertanyaannya..

    Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN atau DIKAPITALISASI ?

    Mari kita lihat.

    Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

    # Pemeliharaan | Maintenance


    Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aset tetap berfungsi normal seperti biasanya

    Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan.

    Apakah boleh dikapitalisasi ?

    Ok, yang ini nanti saja :)
    Contoh Kasus Biaya Maintenance :
    Untuk memberikan Oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya
    Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

    Pengeluaran ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

    Debit | Office Maintenance 400.000
    Kredit | Cash 400.000


    # Perbaikan Aktiva Tetap | Repair


    Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana aktivitas ini lebih besar daripada aktivitas pemeliharaan (maintenance).

    Bila aktiva tetap tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu.

    Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva tetap tersebut menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tetap tersebut.
    Contoh Kasus :

    Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti Oli akan tetapi diketahui komponen saluran Oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya.

    Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,-

    Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC.

    Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :

    Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
    Debit | Office Maintenance 400.000
    Kredit | Cash 400.000


    Apakah boleh dikapitalisasi semua ?

    Sabar, tunggu dulu :)

    # Pergantian Komponen Aset 


    Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, aktivitas penggantian satu atau beberapa komponen dari aset tetap
    Contoh Kasus :

    Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah.
    Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah.
    Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,- 

    Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :

    Debit | Maintenance 70.000
    Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
    Kredit | Cash 1.545.000


    Mengapa tidak dikapitalisasi semua ?

    Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi?

    Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu :)

    # Pengangkatan Kapasitas 


    Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat.

    Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan.

    Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan.

    Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading)

    PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah.
    untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini.
    Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat.
    Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :
    Pembelian Besi 17.000.000
    Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
    Penadah Batu Bara 6.000.000
    Biaya Lain Lain 2.000.000

    Transaksi tersebut dicatat :

    Debit | Mesin 32.000.000
    Kredit | Cash 32.000.000

    # Turun Mesin | Overhaul


    Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin.

    Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi.

    Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali.

    Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut.

    Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering.

    Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut.

    Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut.

    Contoh Kasus Turun Mesin

    PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya.
    Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000.
    Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus.
    Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan.
    Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut

    Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :

    Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
    Kredit | Cash 8.000.000

    Notes :
    Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000

    Masalah berikutnya :
    • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
    • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
    • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
    • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?

        Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut :

        Selanjutnya perhitungan seperti dibawah ini :

        Sebelum Turun Mesin
        Harga Perolehan 50.000.000
        Umur Ekonomis 10 Tahun
        Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
        Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
        Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000

        Setelah Turun Mesin
        Akumulasi Penyusutan  37.000.000
        Nilai Buku 13.000.000
        Tambahan Umur Ekonomis 5
        Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
        Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
        Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000

        Keterangan
        Akumulasi Penyusutan 45.000.000 - 8.000.000
        Nilai Buku 50.000.000 - 37.000.000
        Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
        Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
        Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 - 2.600.000


        Dari sana kita lihat.

        Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8,000,000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8,000,000,

        Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8,000,000, sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah :
        Rp 45.000.000 - Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000
        Nilai Buku menjadi
        Rp 50.000.000 - 37.000.000 = Rp 13.000.000

        Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar :
        Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000

        5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi

        Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu :
        Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

        Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan


        Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak ?

        Wiper mobil harganya cuma 70 ribu.

        Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan.

        Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan,
        Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau di bebankan pada periode tersebut ?

        Tingkat Keseringan
        Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, sebaiknya pengeluaran tersebut dijadikan biaya saja pada saat periode terjadinya pengeluaran atas aktiva tersebut.

        Materialitas
        Apabila suatu pengeluaran dirasa cukup material, hendaknya pengeluaran tersebut dikapitalisasi, sedangkan bila tidak, berarti di bebankan.
        Cara mengetahui material tidaknya dengan membandingkan pengeluaran yang terjadi dengan harga perolehan aset tetapnya.
        Tingkat materialitas dari toko bangunan tentu berbeda dengan perusahaan tambang.
        5 juta mungkin nilai yang material bagi toko bangunan. tapi bisa jadi recehan bagi perusahaan tambang !

        Lama Manfaat
        Jika pengeluaran terhadap aktiva tetap tersebut diprediksi akan memberikan manfaat yang lama atau lebih dari satu tahun buku.
        Maka sebaiknya pengeluaran atas aktiva tersebut hendaknya di kapitalisasi,
        Dan jika kurang dari satu buku, hendaknya tidak.
        Tapi sangkut pautkan juga dengan materialitasnya.

        Pengaruhnya terhadap Lama Manfaat atau Kapasitas Aktiva Tetap
        Apabila pengeluaran atas aktiva tetap tersebut di perkirakan memperpanjang umur atau meningkatkan kapasitas aktiva, hendaknya di kapitalisasi.
        Dan demikian sebaliknya.

        Bagaimana ?

        Sudah ada gambaran ?

        Semoga artikel ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi yang membacanya  :)
        Jika dirasa artikel ini bagus dan berguna.. silahkan untuk di share :)


        Akuntansi Peralatan Kecil | Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

        Akuntansi Peralatan Kecil


        Peralatan kecil bagi perusahaan sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pekerjaan, apalagi jenis perusahaan manufaktur yang kegiatan utamanya menggunakan mesin, pasti menggunakan peralatan peralatan kecil sebagai pendukung kelancaran operasional perusahaan.

        Bahkan. perusahaan yang tidak menggunakan mesinpun juga memerlukan peralatan kecil untuk kelancaran pekerjaan kantornya.

        Disetiap operasional perusahaan, pasti kita dapatkan peralatan kecil yang digunakan oleh perusahaan.

        Peralatan kecil banyak sekali jenisnya, tergantung juga perusahaannya apakah memerlukan atau tidak memerlukan.

        Namun ada beberapa karakteristik dari peralatan kecil yang bisa kita kenali.

        Berikut diantarnya:

        peralatan kecil
        Peralatan Akuntansi

        Karakteristik Peralatan Kecil


        Dilihat dari fungsinya
        Peralatan kecil tidak bisa menghasilkan barang atau jasa secara langsung, tapi memerlukan equipment yang lain, karena peralatan kecil fungsinya hanya sebagai penunjang operasional.
        Dilihat dari Umur Ekonomisnya
        Nilai Umur Ekonomis peralatan kecil biasanya melebihi satu (1) tahun buku akuntansi
        Dilihat dari Nilainya
        Peralatan kecil nilainya dalam perusahaan biasanya tidak material
        Contohnya seperti gunting, steples, obeng, meteran, penggaris dan lain sebagainya


        Karakter dari peralatan kecil yang seperti ini terkadang membikin kita bingung dalam bagaimana perlakuan akuntansinya !

        Kita atau banyak perusahaan yang mencatat peralatan kecil sebagai biaya.

        Melihat dari tingkat ke-materialitas-nya yang relatif tidak mahal. peralatan kecil memang banyak yang dikelompokkan kedalam biaya pada periode peralatan tersebut diperoleht karena melihat tingkat nilai material dari peralatan kecil ini.

        Misalnya biaya pembelian dongkrak, obeng atau pun penggaris banyak yang mencatatnya sebagai "biaya Peralatan". 

        Akan tetapi, dengan perlakuan akuntansi seperti itu, faktor umur ekonomis peralatan kecil yang melebihi 1 satu tahun buku bahkan ada yang bertahun tahun bila dirawat dengan baik menjadi terabaikan.

        Matching principle akuntansi menjadi tidak sesuai lagi jika memperlakukannya sebagai biaya.

        Namun, jika peralatan kecil kita masukkan ke kelompok aktiva tetap, bagaimana cara membebankan nantinya ?

        Bukankan nilai peralatan kecil ini nilainya relatif kecil ?

        Bisa membuat susah nantinya apalagi untuk perusahaan besar karena pasti ada ratusan hingga ribuan peralatan kecil yang digunakan.

        Akan sangat merepotkan menghitungnya.

        Lalu Bagaimana memperlakukan Peralatan Kecil?

        Saya kira ada dua penekanan yang bisa kita lakukan.

        Pertama kita lihat umur ekonomis peralatan kecil tersebut

        Lalu kemudian kita lihat nilai gabungan dari beberapa peralatan kecil tersebut.

        Telaah Umur Ekonomis Peralatan Kecilnya
        Pertimbangkan umur ekonomisnya terlebih dahulu, jika umur ekonomis peralatan kecil tersebut kurang dari 1 (satu) tahun buku, maka jelas kita langsung saja mengakuinya sebagai beban atau dibebankan pada periode yang sama saat peralatan tersebut diperoleh.
        Namun apabila peralatan kecil tersebut mempunyai umur atau masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun buku akuntansi, maka peralatan kecil ini "berpotensi" untuk dikelompokkan dalam aset tool & equipment.
        Ingat. "berpotensi" !
        Tapi hal ini masih memerlukan pertimbangan selanjutnya.
        Lihat nilai gabungan peralatan kecilnya !
        Pertimbangan yang diperlukan kedua adalah apabila peralatan kecil tersebut digabungkan dengan peralatan kecil yang lain, yang umurnya juga melebihi satu tahun buku dan nilai gabungannya menjadi nilai yang material
        Maka kita dapat mengelompokkan peralatan peralatan kecil tersebut ke dalam aset (peralatan dan perlengkapan).
        Untuk perusahaan kecil atau baru beroperasi mungkin belum banyak peralatan kecil yang digunakan, maka yang menjadi pertimbangan adalah potensi penggunaan peralatan kecil di masa mendatang karena mungkin saat ini peralatan nya jika digabungkan sekalipun nilainya tidak akan material,
        Tapi di masa yang akan datang, bisa saja peralatan peralatan kecil tersebut akan sangat signifikan nilai gabugannya.

        Membebankan Peralatan Kecil Gabungan


        Pembebanan peralatan kecil gabungan dilakukan menjelang penutupan buku dengan melakukan perhitungan fisik terhadap peralatan kecil gabungan tersebut.

        Jika pembebanan peralatan gabungan dilakukan dengan menyusutkan secara satu persatu dengan menggunakan metode garis lurus misalnya maupun saldo menurun tidaklah efektif..

        Saldo Awal peralatan kecil tersebut adalah nilai total pembelian atau semua yang dikeluarkan saat perolehan peralatan kecil tersebut.

        Sedangkan saldo akhir atau nilai buku dari peralatan kecil tersebut adalah hasil perhitungan fisik peralatan kecil tersebut.

        Dengan begitu, maka peralatan yang terpakai nilainya bisa ditentukan.

        Contoh

        Nama Peralatan Jml awal
        Jml akhir
        Terpakai
        Harga satuan
        Nilai Terpakai
        Nilai Buku
        Steples 50 20 30 20.000,- 600.000,- 400.000,-
        Penggaris 75 30 45 5.000,- 225.000,- 150.000,-
        Total








        825.000,-
        550.000,-

        Dari daftar di atas, kita bisa membuat pencatatan seperti ini :

        Debit | Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000
        Kredit | Akumulasi Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000


        Ok, Bisa dicerna kan ?

        Jika masih sulit dipahami, silahkan ditanyakan pada kolom komentar.

        Demikian pembahasan mengenai akuntansi peralatan kecil, jika dirasa bermanfaat, silahkan di share 


        Penjualan Aktiva Tetap | Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset

        Penjualan Aset Tetap


        Penarikan Aktiva - Dalam kondisi kondisi tertentu, suatu perusahaan menghadapi kondisi yang tak biasa dalam operasinya hingga mengharuskan atau memutuskan untuk melakukan PENJUALAN ASET TETAP.

        Padahal, tujuan awal perusahaan dalam membeli aset tetap tersebut adalah untuk digunakan dalam operasi perusahaan selama umur manfaat ekonominya demi mempertahankan kelangsungan usaha, baik itu untuk tempat, peralatan, untuk produksi maupun kegunaan lainnya.

        Intinya aset tetap pada awalnya tidak ditujukan untuk di jual kembali.
        Penghapusan Aktiva
        Penghapusan Aktiva Tetap
        Dalam kondisi tertentu, banyak alasan perusahaan harus memutuskan untuk melakukan penjualan aset tetap, kondisi kondisi seperti:
        • Perusahaan berganti jenis produk, sehingga mesin atau peralatan tertentu tidak dapat digunakan dan mubazir
        • Membutuhkan dana atau kekurangan dana, untuk bayar utang atau modal kerja
        • Perusahaan ditutup karena alasan tertentu dan tidak berproduksi kembali
        • Upgrade aktiva tetap, misal mobil yang sudah tua tua yang maintenance mahal diganti dengan yang baru, atau komputer yang sudah tidak mendukung lagi diganti dengan yang lebih canggih
         
          Penjualan Aktiva Tetap merupakan salah satu jenis penarikan aktiva.

          Bagaimana prosedur dan Perlakuan akuntansi nya?

          Perlakuan Akuntansi Pejualan Aset Tetap


          Dua langkah yang dilakukan dalam prosedur penjualan aset tetap:
          1. Update Nilai Buku Aset Tetap yang dijual
          2. Hapus Aset Tetap
          Tentu juga dengan beberapa beberapa langkah detilnya

          Contoh Kasus:
          Pada tanggal 6 Juli 2015, PT.Bunaji menjual mesin produksi-nya dengan harga Rp 150.000.000.
          Mesin ini di beli pada 02 February 2012 dan saat itu harga pembeliannya menghabiskan Rp 240.000.000.
          Beberapa catatan tambahan:
          PT. Bunaji memakai metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan aset tetap tanpa nilai sisa (nilai residu)
          Mesin diperkirakan memiliki umur ekonomis 10 Tahun.
          Berikut posisi Aset Mesin PT Bunaji per 31 Des 2014:

          Harga Perolehan = Rp 240.000.000
          Akumulasi penyusutan = (Rp.70.000.000)
          ----------------------------------------
          Nilai Buku Mesin = Rp 170.000.000



          Langkah Langkahnya:

          # 1. Update Nilai Buku Aset Tetap 

          • Menghitung penyusutan dari tangal 01 Januari – 6 Juli 2015
          Mesin di jual tanggal 6 Juli 2015, dimana tanggal 6 belum melewati setengah bulan, maka untuk bulan Juli dianggap mesin belum digunakann selama 1 bulan penuh, dan bulan juli penyusutan tidak perlu di hitung
          Penyusutan hanya dihitung hingga bulan juni saja.
          Penyusutan 1 Jan – 6 Juli 2015 :
          6/12 x (240.000.000/10) = Rp 12.000.000
          Lalu jurnal beban penyusutan tersebut :


          Depreciation Rp12.000.000

          Accum.Deprec Rp12.000.000

          Jurnal tersebut menambah biaya penyusutan dan menambah akumulasi penyusutan mesin sebesar Rp 12.000.000

          Sehingga "Accum Deprec Mesin" per tanggal 6 Juli 2015 adalah sebagai berikut :
          Accum Deprec per 31 Dec 2014 + Accum Deprec 01 Jan - 6 Juli '15 
          Rp 70.000.000 +  Rp 12.000.000
          = Rp 82.000.000
          Dan nilai Buku Aktiva Tetap Mesin per 6 Juli 2015 adalah :
          Rp 240.000.000 – Rp 82.000.000 = Rp 158.000.000


          Langkah berikutnya adalah penghapusan

          # 2. Penghapusan Aktiva Tetap Mesin


          Aset Tetap Mesin dihapus dengan jurnal :

          Kas / Piutang 150.000.000
          Accum Deprec Mesin 82.000.000
          Rugi Penjualan Aktiva 8.000.000
          Aktiva Tetap Mesin 240.000.000

          Notes:
          • Menghapus Aset Tetap Mesin dan juga akumulasi penyusutannya. penghapusan ini terjadi karena posting aset tetap mesin dimasukkan di kredit dan akumulasi penyusutan dicatat ke sisi Debit.
          • Mencatat kas masuk/mengakui piutang sebesar harga penjualan, 
          Jika transaksi penjualannya dibayar tunai, maka akun kas yang di pakai, tetapi jika opsinya penjualan secara kredit, maka piutang yang dipakai.
          • Mengakui Rugi penjualan aset tetap mesin sebesar selisih nilai buku terbaru/terupdate dengan harga nilai penjualan
           
              Bagaimana jika aset tetap dijual dengan harga diatas nilai buku aktiva setelah di update?

              Ya tinggal di balik saja jurnalnya, dari rugi menjadi akun Laba

              # 3. Pelaporan laba-rugi Penjualan Aset Tetap

              Laba/Rugi Penjualan Aset Tetap dilaporkan dalam Laporan Laba Rugi, didalam klasifikasi Pendapatan Lain lain.

              Apabila ada kesalahan atau kekeliruan pada tulisan, penjumlahan dan yang lainnya pada tulisan ini, silahkan tinggalkan komentar :)

              Sabtu, 15 November 2014

              Perlakuan Akuntansi Aset Tetap Rusak atau Kebakaran

              Penarikan Aktiva Tetap


              Sudah baca artikel sebelumnya tentang perlakuan akuntansi pada aset yang hilang? jika belum, anda bisa membacanya di : Aset Tetap yang Hilang

              OK, dan pada kali ini saya posting tentang penarikan aset tetap, setelah sebelumnya saya menulis tentang aset tetap yang hilang, kali ini saya akan posting tentang perlakuan akuntansi pada aset tetap yang rusak (fatal damaged) dan aset tetap yang terbakar (fire loss).

              penarikan aktiva tetap
              aset tetap terbakar

              Aset Tetap Rusak (Fatal Damaged) dan Terbakar (Fire Loss)


              Terkadang dalam sebuah usaha, ada saja kejadian kejadian yang tentunya tidak diinginkan terjadi, tidak terpikirkan bahkan tidak diduga bahwa sesuatu hal merugikan perusahaan yang tidak direncanakan bisa dialami oleh sebuah perusahaan besar maupun entitas skala kecil. aset tetap yang ada bisa rusak kapan saja, bisa terbakar kapan saja tanpa adanya jadwal yang jelas. bagaimanakah perlakuan akuntansinya?

              Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab rusaknya aset tetap. Kerusakan bisa diakibatkan kelalaian pihak perusahaan sendiri ataupun akibat force majeur.

              [1] Kelalaian Pihak Perusahaan Sendiri


              Kelalaian pihak internal perusahaan sendiri bisa dilakukan oleh karyawan, pemilik atau siapapun yang berada dalam lingkaran internal perusahaan.  dari berbagai referensi, kelalaian pihak internal perusahaan ada beberapa kemungkinan dan yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:
              • Terjadi kesalahan instalasi
              Apabila kesalahan instalasi ini terjadi, sebenarnya yang bertanggung-jawab adalah teknisinya, teknisi bisa seorang tukang pasangnya. apabila menggunakan jasa teknisi dari luar perusahaan (outsourching) maka tentu saja yang bertanggungjawab mengganti rugi adalah pihak yang menyediakan jasa instalasi itu jika ada perjanjian didalamnya sebelumnya.
              • Salah Dalam Pengoperasian
              Apabila kasus seperti ini yang terjadi, maka yang bertanggungjawab adalah operator dan supervisornya atau bisa juga orang dalam perusahaan, tentunya tergantung pada kebijakan masing masing perusahaan, bentuk tanggungjawab diwujudkan dalam penggantian kerugian aset tetap. tetapi apabila kebijakan perusahaan tidak mengharuskan adanya ganti rugi kepada operator maupuan supervisornya, ya selamatlah si operator dari tuntutan ganti rugi, semua tergantung perusahaan masing masing, karena beda perusahaan biasanya beda kebijakan.

              Force Majeur | kerusakan karena bencana alam


              Bentuk dari Force Majeur bisa beragam, Banjir, kebakaran, gempa, bahkan badai, kerispatih (#eh). Guna melindungi aset tetapnya dari kemungkinan kerugian atas bila terjadi force majeur, perusahaan biasanya menggunakan jasa asuransi untuk meminimalisir resiko (loss coverage) kerugian. dan yang paling penting, semua kejadian kategori force majeur yang terjadi harus disertai oleh bukti lapor dari kepolisian.

              Ok, lalu bagaimana prosedur penghapusannya?
              prosedur penghapusan sama saja prosedurnya dengan kasus kehilangan, namun akan menjadi sedikit berbeda jika setelah kerusakan ada ganti rugi ataupun diganti oleh asuransi (insurance coverage).

              Contoh kasus:

              PT Foraz pada tanggal  6 Juni 2014 meresmikan sekaligus memakai untuk pertama kalinya gedung ekspansi PT Foraz yang di perolehnya dengan Harga Perolehan senilai Rp 1.000.000.000, (1M) diperkirakan, gedung baru tersebut akan bertahan selama umur ekonomisnya  hingga 50 tahun lamanya. untuk menghitung penyusutan gedung. manajemen memutuskan untuk menggunakan metode garis lurus.

              tapi celakanya,pada 28 agustus 2014 gedung yang baru saja diresmikan tersebut mengalami musibah kebakaran yang meludeskan hampir seluruh bagian gedung. beruntungnya PT foraz, gedung yang terbakar tersebut telah diasuransikan dan mendapat uang pertanggungan pada tanggal 29 Agustus sebesar Rp 800.000.000.


              Langkah Pertama: Update Nilai Buku terakhir Aset Tetap Gedung

              Penyusutan 6 Jan – 28 Agustus 2014:

              Penyusutan = 3/12 x (Rp 1.000,000,000/50) = Rp 5.000.000

              Akui penyusutan dengan jurnal:

              [Debit]      Depreciation        Rp 5.000.000
              [Credit]             Accum. Deprec                 Rp 5.000.000

              catatan: penyusutan hanya 3 bulan, karena gedung sempat dipakai selama 3 bulan

              Dari penjurnalan seperti diatas maka Akumulasi penyusutan sebesar  Rp 5.000.000

              Sehingga nilai buku aktiva gedung per tanggal 28 Agustus 2014 menjadi:

              Nilai Perolehan - Akumulasi penyusutan aset tetap gedung
              1.000.000.000 - 5.000.000
              = Rp  995.000.000


              Langkah ke dua: Hapus Aset Tetap Gedung

              Pada tanggal 28 Agustus 2014, Aset Tetap Gedung yang terbakar dihapus, jurnalnya:

              [Debit ] Accum Deprec.             Rp       5,000,000
              [Debit ] Fire Lost Rp                  Rp   995.000.000
              [Credit] Aset Tetap Gedung                               Rp 1.000.000,000

              Langkah Selanjutnya: Pengakuan Klaim Asuransi

              Tanggal 29 Agustus 2014, penerimaan klaim asuransi sebesar Rp 800,000,000 jurnalnya:

              [Debit] Kas                 Rp 800,000,000
              [Credit] Fire Lost                                   Rp 800,000,000

              Jadi, dari penjurnalan diatas, maka kerugian akibat kebakaran gedung per tanggal 29 Agustus 2014 tinggal:
              Rp 995.000.000 - Rp 800.000.000
              = Rp 195.000.000

              Notes:

              Pada akhir periode, sama seperti aset tetap yang hilang, Aset Tetapnya tentu tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldonya sudah nol, sedangkan kerugiannya dimasukkan ke dalam kelompok Pos Pos Luar biasa (extra ordinary items). Dan dalam catatan laporan keuangan, harus diberikan penjelasan yang cukup mengenai penyebab terjadinya Extraordinary Items.

              Dari kasus Aset Tetap terbakar diatas, sederhananya, apabila bangunan perusahaan terbakar sampai habis hingga tak tersisa, atau dalam bahasa inggrisnya ludes, semua isi isinya semacam mesin, peralatan, inventory dan semuanya juga hangus dibawa api api yang lagi marah.

              Mesin dan juga peralatan kantor dapat dihapus dengan cara yang sama seperti penghapusan bangunan, tetapi bagaimana dengan Inventorinya? Apakah sama caranya? tidak. penghapusan inventori tidak sama dengan aset tetap, karena inventori itu berhubungan/terkait langsung dengan harga pokok penjualan. jika ada waktu luang akan saya posting juga.

              sekian tulisan tentang perlakuan akuntansi aktiva tetap rusak atau kebakaran (force majeur) semoga sedikit bermanfaat bagi yang membaca :) dan oh ya mungkin anda juga tertarik untuk mengetahui : Pengertian Akuntansi


              Kamis, 13 November 2014

              Aset Tetap Hilang Dicuri Maling? Begini Perlakuan Akuntansinya

              Berbicara Aset Tetap, Sudahkan Anda membaca Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap? Bagaimana seandainya jika aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan tiba tiba saja hilang tercuri maling? bagaimana Perlakuan Akuntansi Aset yang Hilang ?

              Aktiva TEtap Hilang TErcuri
              Aktiva Hilang Tercuri
              Aset Tetap yang hilang merupakan salah satu alasan penarikan aset tetap (Plant Asset Retirement). selain hilang, aset yang terbakar atau rusak juga merupakan alasan penarikan aset dengan kasus yang khusus, nanti akan saya tulis di lain postingan. Di tulisan ini akan saya bahas perlakuan dan prosedur penghapusan aset tetap yang hilang dicuri maling.

              Aset Tetap Hilang Tercuri (Theft Asset)


              Aset tetap hilang tercuri? memang kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi. Dalam kasus seperti ini aset tetap yang hilang tentu harus dihapus dari buku atau catatan perusahaan. Pengahapusan buku atas aset tetap dilakukan berdasarkan bukti Surat Kehilangan dari pihak pihak kepolisian. tetapi bagaimana seandainya jika surat laporan kehilangan dari pihak kepolisian tidak ada? maka tidak bisa dilakukan penghapusan, pembuktiannya sangat sulit saat laporan keuangan kepada stake holder, mereka bakal tidak percaya. nah untuk itu diperlukan surat lapor kehilangan dari pihak kepolisian sebagai dasar penghapusan aset tetap.

              Contoh Kasus

              Pada tanggal 6 Juni 2014, PT.Foraz kehilangan Mesin Printing yang dahulu dibeli pada tanggal 01 Maret 2014 dengan harga perolehan Rp 160,000,000. atas kehilangan tersebut pihak PT. Foraz telah melaporkannya kepada pihak kepolisian dengan surat lapor no. 0606/IV/SLK/POLRI/2014 tertanggal 06 Juni 2014

              Sekedar diketahui, PT Foraz Dalam menghitung penyusutannya menggunakan metode garis lurus. Diperkirakan umur ekonomis Mesin Printing diperkirakan 4 Tahun, dan PT Foraz tidak memperkirakan nilai sisa atau nilai residu pada aset mesin printing tersebut (nilai residu 0)
              Bagaimana Prosedur Penghapusan Mesin Printing Tersebut? 
              Prosedur penghapusannya sebenarnya sederhana saja:

              Ok, untuk langkah pertama

              Update Buku Aset Tetap Mesin Printing

              Upadate nilai buku dengan menghitung penyusutan mesin printing dari tanggal perolehan mesin hingga tanggal hilangnya mesin printing tersebut.

              Penyusutan 01 Maret – 06 Juni 2014:

              Mesin Printing telah dipergunakan selama 3 bulan

              Penyusutan = 3/12 x (160,000,000/4) = Rp 10.000.000

              Kemudian selanjutnya kita akui penyusutan mesin printing tersebut dengan jurnal :

              Debit | Depreciation Rp10.000.000
              Kredit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000


              Notes:
              Penjurnalan diatas untuk:
              • Mengakui Biaya Penyusutan sebesar Rp 10.000.000
              • Mengakui Akumulasi penyusutan dengan besaran nominal yang sama.


              Maka, Nilai Buku Handycam per 06 Juni 2014, tanggal dimana aset tersebut hilang tercuri:

              Perolehan mesin printing - Akumulasi penyusutan

              Rp 160.000.000 - Rp 10.000.000
              = Rp 150.000.000

              Jadi saat aset tersebut hilang, nilai bukunya sebesar Rp 150.000.000 

              Langkah Berikutnya:
              Hapus Aset Tetap (Mesin Printing) yang hilang

              Aset tetap yang hilang dihapuskan dengan jurnal:

              Debit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000
              Debit | Rugi Kehilangan Aktiva Tetap Rp150.000.000
              Kredit | Aktiva Tetap - Mesin Printing Rp160.000.000


              Kesimpulan : Kerugian diakui sebesar Nilai Buku Aset Tetap yang hilang.

              Pelaporan Penghapusan Aset Tetap yang Hilang


              Di akhir periode, Aset Tetap mesin printingnya sudah tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldo-nya sudah NOL sedangkan kerugian yang dialami diklasifikasikan ke dalam kelompok Pos Pos Luar Biasa (extra ordinary items). Dan dalam catatan laporan keuangan diberikan penjelasan mengenai terjadinya Extraordinary Items tersebut.
              Demikian tulisan tentang Perlakuan Aset Tetap Hilang Tercuri, bagaimana perlakuan Akuntansi jika aset tetap terbakar atau rusak? silahkan baca postingan saya selanjutnya disini:

              Selasa, 28 Oktober 2014

              Pengertian Aktiva Tidak Berwujud | Intangible Assets

              Pengertian Aktiva Tak Berwujud


              Setelah menulis tentang Aktiva Lancar (current assets) dan Aset Tetap (fixed assets), kali ini saya akan menulis mengenai jenis aset yang lainnya, yaitu Aset Tidak Berwujud

              Pengertian aktiva tak berwujud menurut PSAK :
              Aktiva Tak Berwujud merupakan aktiva non moneter yang bisa diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik secara nyata serta dimiliki guna menghasilkan maupun menyerahkan barang dan jasa, disewakan maupun hanya untuk tujuan administrasi.
              aset tak berwujud
              aktiva tidak berwujud
              Didalam akuntansi, diakuinya sebuah aktiva tak berwujud apabila :
              • Perusahaan berpotensi akan mendapatkan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dari aset tersebut
              • Biaya biaya dalam perolehannya bisa diukur dengan handal

                Aktiva tak berwujud diakui sebesar harga perolehan.

                Kemudian pada periode selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya.

                Didalam menentukan besaran harga perolehan tergantung oleh bagaimana cara perolehan aktiva tak berwujudnya.

                Apabila aktiva tak berwujud diperoleh dengan membeli atau transaksi yang menggunakan kas atau setara kas lainnya, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar uang yang dikeluarkan/akan dibayarkan.

                Dan apabila aset tidak berwujud diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva yang lain, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar harga kekinian dari aktiva yang ditukar.

                Contoh Aktiva Tak Berwujud


                [1] Hak Sewa (Lease Hold)
                Hak sewa diperoleh dari transaksi sewa aktiva tertentu, disahkan oleh notaris dan dalam tempo kurun waktu tertentu.
                Contohnya : sewa gedung, sewa kendaraan, sewa mesin. alasan hak sewa diakui sebagai aset tak berwujud karena:
                • Memberikan kontribusi bagi perusahaan dimasa mendatang
                • Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
                  Contoh Hak Sewa 
                  1. PT Tiban Jaya Rotan menyewa gedung untuk showroom-nya Rp 100.000.000 selama 10 tahun
                  2. PT Tiban Jaya Rotan menyewa mobil Rp 250.000 per hari untuk kliennya yang berkunjung.
                  Pencatatan :
                  Sewa Gedung 100.000.000
                  kas 100.000.000
                  Biaya Sewa 200.000
                  Kas 200.000
                  Kedua transaksi "sewa" tersebut diperlakukan berbeda
                    • Sewa gedung dicatat sebagai harga perolehan aktiva tak berwujud, berupa hak sewa bangunan karena nilainya yang material dan manfaatnya lebih dari satu tahun buku, yaitu selama 10 tahun kedepan 
                      • Dalam transaksi sewa mobil, biaya yang dikelaurkan dicatat sebagai BIAYA, karena nilai nominalnya tidak terlalu material dan manfaatnya hanya satu hari atau kurang dari satu tahun buku.
                          [2] Hak Paten
                          Hak Paten merupakan hak yang didapat dari penemuan tertentu, penemu tersebut akan mendapatkan manfaat dalam waktu tertentu dan dimasa mendatang (bisa diperpanjang) contohnya penemuan formula, sistem, penemuan produk, atau rekayasa.
                          [3] Trade Mark (Merek Dagang) 
                          Merek dagang adalah hak yang didapat dari suatu merk komersil tertentu.
                          Contoh : logo, tulisan, simbol ataupun kombinasinya yang mewakili entitas tertentu.
                          [4] Organization Cost
                          Merupakan pengeluaran entitas yang timbul sebelum perusahaan beraktivitas operasi.
                          Contohnya biaya notaris, biaya seperti ini dicatat sebagai perolehan aset tak berwujud karena manfaatnya yang diperoleh entitas saat itu dan dimasa mendatang selama entitas masih beroperasi.
                          [5] Copyright (Hak Pengadaan)
                          Merupakan hak yang diberikan karena suatu penulisan, baik itu puisi, novel, karya ilmiah, nada lagu maupun lirik, skenario film.
                          Hak Pengadaan (copyright) bisa meliputi hak mengedarkan dan memperbanyak karya tersebut
                          [6] Perijinan (Licences)
                          Hak yang didapat dari pemerintahan untuk bisa melakukan aktivitas yang terkait dengan bidang usaha perusahaan.
                          Licences ini ada masa waktunya, apabila telah habis, maka harus diperpanjang/diperbarui. biasanya izin seperti ini mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun buku, bisa 3 hingga 30 tahun.
                          [7] Franchise
                          Franchise merupakan hak yang didapat guna melakukan jenis usaha tertentu, memasarkan produk juga mengikuti polanya, penggunaan logo maupun pengelolaannya.
                          Kesemuanya dimiliki oleh entitas yang memberikan franchise/waralaba
                          [8] Goodwill
                          Goodwil adalah keistimewaan atau kelebihan tertentu yang dimiliki suatu entitas.
                          Goodwill diakui apabila terjadi transaksi pada perusahaan yang dinilai lebih oleh entitas lain.
                          Transaksi bisa berupa merger atau akuisisi maupun penjualan perusahaan.
                          Contohnya keistimewaan perusahaan bisa muncul karena perusahaan mempunyai reputasi yang sangat bagus, mempunyai produk yang tak dimiliki oleh para pesaing maupun letak perusahaan yang strategis.

                          Perlakuan Akuntansi Aset Tak Berwujud


                          Dalam akuntansi aktiva tidak berwujud, sebenarnya hampir sama permasalahannya dengan aktiva berwujud
                            • Perolehan Aset Tak Berwujud dicatat dan diakui sebesar nilai faktur serta ditambah semua biaya yang menyertai untuk mendapatkan aset/haknya (sama seperti aset berwujud)
                            • Apabila terjadi pengeluaran setelah perolehan aset tak berwujud (expenditure), biaya biaya tersebut dikapitalisasi ataupun dibebankan ke periode berjalan, sama seperti tangible asset
                            • Amortisasi Aset Tak Berwujud, seperti halnya penyusutan pada aktiva tetap, dialokasikan harga perolehannya menjadi biaya (beban usaha). 
                            Pencatatan maupun perhitungan amortisasi sama caranya dengan perhitungan dan pencatatan penyusutan aktiva tetap.
                                - Kecuali trade mark (merk dagang) yang dikelompokan kedalam HPP, mayoritas Amortisasi merupakan biaya usaha
                                  - Metode garis lurus mungkin lebih baik diaplikasikan dalam Amortisasi, karena aset tak berwujud pada dasarnya tak berhubungan dengan produk/output yang dihasilkan perusahaan.

                                    Pelaporan Aktiva Tak Berwujud (Disclosure)


                                    Yang dilaporkan Aktiva Tak Berwujud hanya net value-nya (nilai bersih) setelah dikurangi oleh akumulasi amortisasi.

                                    Akumulasi amortisasi ini tidak disajikan dalam neraca

                                    Khusus mengenai Perlakuan Goodwill, lebih jauh bisa dibaca disini : Pengertian Goodwill


                                    Senin, 27 Oktober 2014

                                    Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap | Fixed assets

                                    Aktiva Tetap - Pada kesempatan kali ini saya akan menulis tentang aktiva tetap. artikel aktiva tetap ini saya sadur dari beberapa sumber.

                                    Definisi atau Pengertian Aset Tetap menurut para ahli adalah harta kekayaan atau sumber daya entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu. aset tetap digunakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha perusagaan untuk menghasilkan barang atau jasa.

                                    Peranan aset tetap sangat signifikan dalam menghasilkan barang dan jasa, misalnya tanah/lahan dan bangunan tempat produksi, mesin dan berbagai peralatan lain yang digunakan sebagai alat produksi dan yang lainnya.

                                    Aset Tetap
                                    Aktiva Tetap
                                    Sofyan Safri berpendapat bahwa :
                                    "Aset tetap adalah aset suatu entitas yang menjadi hak milik perusahaan yang digunakan untuk memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa entitas bisnis dan penggunaannya secara terus menerus."
                                    Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap ialah aset yang berwujud yang didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai maupun dibangun terlebih dahulu dan dipakai dalam aktivitas operasi perusahaan, tidak ditujukan dijual kembali dalam rangka aktivitas normal perusahaan serta memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).

                                    Karakteristik Aktiva Tetap


                                    Aset Tetap memiliki beberapa karakteristik, berikut diantaranya:
                                    • Mempunyai wujud fisik
                                    • Tidak ditujukan untuk dijual lagi
                                    • Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan, mesin dan kendaraan dll.
                                    • Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya bisa diukur dengan handal.
                                    • Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti barang dagang/persediaan atau investasi) misal, mobil bagi dealer mobil diakui sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.

                                    Pengakuan Aktiva Tetap


                                    Sebuah perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya.

                                    Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap apabila :
                                    • Potensi manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang. 
                                    Untuk menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang, terjadinya manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa entitas usaha akan mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang terkait.
                                      • Biaya perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti transaksi perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
                                       
                                        Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap adalah perusahaan mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan  akan diterima dari aset tetap tersebut.

                                        Penggolongan Aktiva Tetap


                                        Aset tetap diklasifikasikan (dikelompokkan) karena aset tetap mempunyai sifat dan karakter yang beda dengan aktiva yang lain.

                                        Aset tetap terdiri atas beberapa jenis barang, jadi perlu dikelompokkan masing masing aktiva tersebut.

                                        Pengelompokan aktiva ini berdasarkan kebijakan Akuntansi pada perusahaan masing karena pada umumnya makin banyak aset tetap yang dimiliki akan makin banyak juga kelompoknya.

                                        Nominal atau nilai yang relatif signifikan dan jenis serta bentuk aktiva tetap yang cukup beragam membuat perusahaan harus lebih berhati hati dalam proses penggolongannya.

                                        Biasanya, untuk tujuan akuntansi, aktiva tetap digolongkan seperti ini:
                                        • Aset Tetap yang umumnya tak terbatas misalnya tanah untuk letak perusahaan, peternakan dan pertanian.
                                        • Aset Tetap yang umumnya terbatas, dan jika asetnya telah habis penggunaannya bisa diganti oleh aset sejenis. contohnya mesin, peralatan, meubeler dan yang lainnya.
                                        • Aset Tetap yang umumnya terbatas dan jika penggunaannya telah habis tidak bisa diganti dengan aset sejenis misal tambang dan sumber alam yang lain.
                                         
                                          Dan seorang Sofyan Safri mengelompokkan aktiva tetap dari berbagai sudut, antara lain :

                                          [1] Sudut Substansi Aset Tetap
                                          • Aset Berwujud (Tangible Assets), misalnya gedung, mesin, peralatan dll
                                          • Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets), misalnya hak patent, trademark, goodwill, franchise dll

                                            [2] Aset Tetap Disusutkan atau tidak disusutkan
                                            • Aset disusutkan (Depresiasi plant asset)  seperti mesin, bangunan, peralatan, kendaraan dll.
                                            • Aset tidak disusutkan (Undepreciated plant asset) seperti tanah

                                              [3] Aset Tetap Berdasarkan Jenisnya
                                              • Bangunan, gedung yang berdiri pencatatannya dipisah dari lahan yang menjadi lokasinya
                                              • Lahan, sebidang tanah kosong maupun yang sudah ada bangunannya, pencatatannya dipisah dengan bangunan.
                                              • Mesin, didalamnya termasuk peralatan yang menjadi komponen/bagian dari mesin
                                              • Kendaraan, semua jenis kendaraan seperti kendaraan bermotor, alat pengangkut dan yang lainnya
                                              • Perabot, semua yang merupakan isi dari gedung. misalnya perabotan kantor, perabotan pabrik,
                                              • Inventaris, peralatan yang digunakan seperti inventaris gudang, inventaris kantor dan yang lainnya.
                                              • Prasarana, seperti jalan akses, pagar, jembatan dan lain sebagainya

                                              Demikian lah penjabaran mengenai Pengertian Aset Tetap atau Aktiva Tetap, semoga dapat membantu dan bermanfaat.

                                              Oh iya, bagaimana dengan perlakuan akuntansi atas aktiva tetap ?

                                              Anda dapat membaca tulisan saya bertahap di sini : Perlakuan Akuntansi Aset Tetap



                                              Aktiva Lancar atau Aset Lancar (Current Assets)

                                              Pengertian Aktiva Lancar


                                              Aktiva Lancar - Salah satu jenis aktiva atau Aset adalah Aset Lancar, Pengertian Aktiva Lancar  adalah uang tunai atau kas dan aset kekayaan lainnya yang diharapkan bisa dikonversi menjadi kas maupun dijual/dikonsumsi habis dalam waktu tidak lebih dari satu tahun buku.

                                              Kriteria Aset lancar menurut PSAK 1
                                              Berdasarkan PSAK yang kita anut, Aset Lancar memiliki kriteria kriteria sebagai berikut:
                                              Aset Lancar
                                              Aktiva Lancar
                                              1. Entitas usaha mengharapkan untuk menggunakan atau mengeluarkan (menjual) aktiva dalam kurun siklus normal kurang dari satu tahun buku. Contoh piutang usaha yang jatuh tempo pembayarannya kurang dari satu tahun buku. atau contoh yang lain lagi adalah meja kursi, adalah aset lancar bagi perusahaan mebel, karena merupakan persediaan yang akan dijual tetapi jika dimiliki bukan perusahaan mebel misal perusahaan manufaktur meja kursi akan dicatat sebagai aset tetap (peralatan) karena perusahaan tersebut tidak memiliki tujuan untuk menjual meja kursi, hanya digunakan sebagai peraltan  untuk mendukung operasi perusahaan.
                                              2. Entitas usaha mempunyai aktiva yang ditujukan untuk diperdagangkan.
                                              3. Entitas usaha akan merealisasikan aktiva dalam rentang waktu periode satu tahun buku (12 bulan) setelah laporan. misalnya piutang karyawan dimana perusahaan akan menerima pembayarannya dalam tempo satu tahun buku setelah periode pelaporan.
                                              4. Kas (cash) atau setara kas kecuali yang dibatasi sehingga tidak bisa digunakan membayar kewajiban paling tidak satu tahun buku. setara kas ialah investasi oleh entitas yang bersifat jangka pendek dan likuid, untuk dijadikan uang kas sangat mudah dan cepat dengan nominal yang bisa ditentukan dan resiko perubahan nilainya sangat tidak signifikan.
                                              Aset Lancar
                                              Aktiva Lancar

                                              Setalah melihat beberapa kriteria tersebut, berikut contoh contoh yang termasuk dalam aktiva lancar adalah :
                                              • Kas dan Setara Kas 
                                              Kas ini bisa dibilang aktiva lancar yang paling lancar, Kas atau setara kas ini simpel sebenarnya, sesuatu apapun yang bisa ditabungkan di Bank serta bisa dengan mudah ditarik/diambil setiap saat (sewaktu waktu) dalam bentuk kas itu dianggap Cash/kas. contohnya: uang, check (belum ditarik/diuangkan) juga uang kas yang ada disimpan di bank. tetapi, sertifikat depisito tidak termasuk dalam kas karena adanya pembatasan waktu dalam penarikan. agar sebuah account bisa disebut aset lancar, kas wajib ada/tersedia untuk segera digunakan
                                              kas yang disimpan yang bertujuan untuk tidak digunakan dalam periode atau dibatasi penggunaannya dalam siklus normal operasi perushaan tidak disebut aset lancar, yang diklasifiksikan "setara kas" ialah investasi jangka pendek perusahaan yang sifatnya likuid, siap dikonversikan dalam bentuk kas dengan nilai yang bisa diukur pasti, juga mendekati jatuh tempo (umumnya tempo pencairan paling lama 3 bulan),perubahan suku bunga tidak mengubah nilainya secara signifikan contohnya reksadana pasar uang.
                                              Dalam Pengertian Akuntansi, kas adalah sebutan untuk account yang sifatnya paling likuid (lancar). 
                                              • Investasi Jangka Pendek yang Diperdagangkan
                                              Investasi  yang ditujukan dijual kembali dalam jangka waktu yang  pendek untuk mendapatkan gain atau keuntungan. investasi ini juga merupakan aset lancar, contohnya efek sekuritas, aset deriative yang dibeli dengan maksud untuk dijual kembali.
                                              • Piutang Dagang | Accounts Receivable
                                              Aktiva lancar berikutnya adalah piutang. Piutang adalah tagihan kepada seseorang atau badan usaha yang muncul karena operasi normal entitas usaha. contoh piutang adalah piutang pada perusahaan rekanan (afiliasi) piutang pada pelanggan dll. apabila nanti ada penurunan nilai piutang karena return penjualan, piutang yang tidak bisa ditagih maupun diskon, harus dicantumkan dan dijelaskan dengan rinci didalam penjelasan laporan keuangan perusahaan.
                                              •  Persediaan | Inventory
                                              Persediaan merupakan aktiva yang tersimpan, baik untuk dijual (misal persediaan barang dagang) maupun untuk digunakan oleh entitas itu sendiri (misal bahan baku) dalam rentang waktu operasi normal entitas usaha. penentuan nilai persediaan perusahaan ini bisa menggunakan metode FIFA dan metode weighted average cost (rata rata tertimbang) dan dicantumkan dalam penjelasan laporan keuangan perusahaan. .
                                              • Beban Dibayar Dimuka | Prepaid Expenses
                                              Beban dibayar dimuka juga merupakan aktiva lancar, beban dibayar dimuka merupakan aset yang diperoleh karena adanya pembayaran yang manfaat dan pemakaian ekonominya tidak habis dipakai dalam satu periode, contohnya sewa gedung yang dibayar dahulu dimuka, pembayaran asuransi dimuka.
                                              Begitulah kira kira Pengertian Aset Lancar atau Aktiva Lancar, semoga artikel ini bermanfaat.