Tampilkan postingan dengan label Aktiva Tetap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktiva Tetap. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2015

Perbedaan Pengeluaran Modal vs Pengeluaran Pendapatan

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat artikel tentang pengeluaran aktiva (expenditure). Ada kawan sempat bertanya tentang istilah :
"dibebankan atau dikapitalisasi ?"
Dan ternyata beberapa pembaca juga bingung, maksudnya bagaimana ?

Baiklah, tulisan kali ini bisa berhubungan dan sedikit menjelaskan.

Pengeluaran Pendapatan
Pengeluaran Modal Pengeluaran Pendapatan

Capital Expenditure | Pengeluaran Modal


Pengeluaran modal atau yang juga dikenal dengan istilah capex (capital expenditure) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap, menambah kapasitas output aktiva tetap, menambah tingkat keefisienan aktiva tetap, juga memperpanjang umur ekonomis suatu aktiva tetap (manfaat ekonomisnya lebih dari satu tahun buku).

Apabilia dilihat dari tingkat material, biasanya, biaya biaya ini dikeluarkan dalam nominal yang cukup material.

Selain itu tingkat keseringan pengeluaran modal ini jarang terjadi.

Contohnya: 
Biaya yang dikeluarkan dalam pembelian aktiva tetap

Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pembelian salah satu atau lebih komponen aktiva tetap

Maupun biaya penggantian komponen-komponen aktiva yang perlu diganti 
Biaya yang dikeluarkan dengan tujuan mendapatkan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang, meningkatkan kapasitas produksi maupun tingkat efisiensi dan juga bisa memperpanjang umur ekonomis atau masa manfaat atas aset tetap.

Misalnya, pembelian mesin produksi, pembelian komponen mesin produksi, meng-upgrade kapasitas mesin produksi, yang umumnya jumlah yang dikeluarkan untuk itu sangat material.

Jadi, pengeluaran modal merupakan pengeluaran yang tidak dibebankan pada saat periode pengeluaran itu terjadi melainkan di KAPITALISASI sebagai aset tetap dalam Neraca.

Karena pengeluaran pengeluaran ini diharapkan memberikan manfaat untuk perusahaan di masa yang akan datang !

Kemudian, secara periodik, aset tetap ini dialokasikan sebagai beban penyusutan pada periode mendatang.

Revenue Expenditure | Pengeluaran Pendapatan


Pengertian revenue expenditure atau pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran/biaya biaya yang hanya memberikan manfaat ekonomis pada saat PERIODE BERJALAN terjadinya pengeluaran.

Pengeluaran ini tidak dikapitalisasi sebagai aset tetap pada neraca tetapi LANGSUNG DIBEBANKAN pada laporan laba/rugi periode berjalan.

Dilihat dari nilai materialitasnya, pengeluaran pendapatan ini nilainya cenderung kecil, alias tidak material bagi perusahaan.

Manfaat ekonomisnya yang diperoleh tidak lebih dari satu tahun buku.

Pengeluaran ini biasanya juga sering terjadi dalam operasional perusahaan dan berulang ulang.

Contohnya seperti pengeluaran pemeliharaan mesin, pembersihan mesin, melumasi mesin agar bisa beroperasi seperti biasanya.

Pengeluaran pengeluaran seperti ini biasanya tidak membuat umur ekonomis mesin bertambah, juga tidak bisa meningkatkan kapasitas produksi mesin maupun tingkat efisiensinya

Dan nominal yang dikeluarkan cenderung tidak material dibanding perolehan mesin itu sendiri.

Pengeluaran seperti ini berulang terjadi dan pencatatannya langsung dibebankan pada periode tersebut.

Namun, jika seandainya ada salah satu komponen mesin yang rusak, misalnya ada beberapa kabel yang harus diganti atau plank yang harus di las dan kerusakannya tidak sampai membuat turun mesin, nilainya tidak material.

Maka pengeluaran ini dicatat sebagai beban perbaikan. Tidak dikapitalisasi !

Apa bisa dimengerti ?

Senin, 12 Januari 2015

Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) | Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


Dalam perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap. 

Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya.

Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.
ekspenditure aktiva tetap
Pengeluaran Aktiva Ekspenditure
Tapi, Setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok). 

Agar bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal. 

Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.
  • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
  • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)

    Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya.
    Silahkan baca: Penyusutan

    Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


    Tadi sudah saya jelaskan, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang dilakukan.

    Nah pertanyaannya..

    Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN atau DIKAPITALISASI ?

    Mari kita lihat.

    Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

    # Pemeliharaan | Maintenance


    Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aset tetap berfungsi normal seperti biasanya

    Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan.

    Apakah boleh dikapitalisasi ?

    Ok, yang ini nanti saja :)
    Contoh Kasus Biaya Maintenance :
    Untuk memberikan Oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya
    Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

    Pengeluaran ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

    Debit | Office Maintenance 400.000
    Kredit | Cash 400.000


    # Perbaikan Aktiva Tetap | Repair


    Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana aktivitas ini lebih besar daripada aktivitas pemeliharaan (maintenance).

    Bila aktiva tetap tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu.

    Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva tetap tersebut menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tetap tersebut.
    Contoh Kasus :

    Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti Oli akan tetapi diketahui komponen saluran Oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya.

    Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,-

    Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC.

    Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :

    Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
    Debit | Office Maintenance 400.000
    Kredit | Cash 400.000


    Apakah boleh dikapitalisasi semua ?

    Sabar, tunggu dulu :)

    # Pergantian Komponen Aset 


    Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, aktivitas penggantian satu atau beberapa komponen dari aset tetap
    Contoh Kasus :

    Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah.
    Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah.
    Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,- 

    Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :

    Debit | Maintenance 70.000
    Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
    Kredit | Cash 1.545.000


    Mengapa tidak dikapitalisasi semua ?

    Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi?

    Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu :)

    # Pengangkatan Kapasitas 


    Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat.

    Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan.

    Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan.

    Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading)

    PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah.
    untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini.
    Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat.
    Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :
    Pembelian Besi 17.000.000
    Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
    Penadah Batu Bara 6.000.000
    Biaya Lain Lain 2.000.000

    Transaksi tersebut dicatat :

    Debit | Mesin 32.000.000
    Kredit | Cash 32.000.000

    # Turun Mesin | Overhaul


    Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin.

    Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi.

    Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali.

    Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut.

    Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering.

    Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut.

    Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut.

    Contoh Kasus Turun Mesin

    PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya.
    Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000.
    Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus.
    Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan.
    Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut

    Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :

    Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
    Kredit | Cash 8.000.000

    Notes :
    Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000

    Masalah berikutnya :
    • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
    • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
    • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
    • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?

        Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut :

        Selanjutnya perhitungan seperti dibawah ini :

        Sebelum Turun Mesin
        Harga Perolehan 50.000.000
        Umur Ekonomis 10 Tahun
        Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
        Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
        Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000

        Setelah Turun Mesin
        Akumulasi Penyusutan  37.000.000
        Nilai Buku 13.000.000
        Tambahan Umur Ekonomis 5
        Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
        Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
        Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000

        Keterangan
        Akumulasi Penyusutan 45.000.000 - 8.000.000
        Nilai Buku 50.000.000 - 37.000.000
        Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
        Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
        Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 - 2.600.000


        Dari sana kita lihat.

        Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8,000,000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8,000,000,

        Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8,000,000, sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah :
        Rp 45.000.000 - Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000
        Nilai Buku menjadi
        Rp 50.000.000 - 37.000.000 = Rp 13.000.000

        Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar :
        Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000

        5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi

        Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu :
        Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

        Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan


        Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak ?

        Wiper mobil harganya cuma 70 ribu.

        Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan.

        Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan,
        Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau di bebankan pada periode tersebut ?

        Tingkat Keseringan
        Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, sebaiknya pengeluaran tersebut dijadikan biaya saja pada saat periode terjadinya pengeluaran atas aktiva tersebut.

        Materialitas
        Apabila suatu pengeluaran dirasa cukup material, hendaknya pengeluaran tersebut dikapitalisasi, sedangkan bila tidak, berarti di bebankan.
        Cara mengetahui material tidaknya dengan membandingkan pengeluaran yang terjadi dengan harga perolehan aset tetapnya.
        Tingkat materialitas dari toko bangunan tentu berbeda dengan perusahaan tambang.
        5 juta mungkin nilai yang material bagi toko bangunan. tapi bisa jadi recehan bagi perusahaan tambang !

        Lama Manfaat
        Jika pengeluaran terhadap aktiva tetap tersebut diprediksi akan memberikan manfaat yang lama atau lebih dari satu tahun buku.
        Maka sebaiknya pengeluaran atas aktiva tersebut hendaknya di kapitalisasi,
        Dan jika kurang dari satu buku, hendaknya tidak.
        Tapi sangkut pautkan juga dengan materialitasnya.

        Pengaruhnya terhadap Lama Manfaat atau Kapasitas Aktiva Tetap
        Apabila pengeluaran atas aktiva tetap tersebut di perkirakan memperpanjang umur atau meningkatkan kapasitas aktiva, hendaknya di kapitalisasi.
        Dan demikian sebaliknya.

        Bagaimana ?

        Sudah ada gambaran ?

        Semoga artikel ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi yang membacanya  :)
        Jika dirasa artikel ini bagus dan berguna.. silahkan untuk di share :)


        Akuntansi Peralatan Kecil | Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

        Akuntansi Peralatan Kecil


        Peralatan kecil bagi perusahaan sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pekerjaan, apalagi jenis perusahaan manufaktur yang kegiatan utamanya menggunakan mesin, pasti menggunakan peralatan peralatan kecil sebagai pendukung kelancaran operasional perusahaan.

        Bahkan. perusahaan yang tidak menggunakan mesinpun juga memerlukan peralatan kecil untuk kelancaran pekerjaan kantornya.

        Disetiap operasional perusahaan, pasti kita dapatkan peralatan kecil yang digunakan oleh perusahaan.

        Peralatan kecil banyak sekali jenisnya, tergantung juga perusahaannya apakah memerlukan atau tidak memerlukan.

        Namun ada beberapa karakteristik dari peralatan kecil yang bisa kita kenali.

        Berikut diantarnya:

        peralatan kecil
        Peralatan Akuntansi

        Karakteristik Peralatan Kecil


        Dilihat dari fungsinya
        Peralatan kecil tidak bisa menghasilkan barang atau jasa secara langsung, tapi memerlukan equipment yang lain, karena peralatan kecil fungsinya hanya sebagai penunjang operasional.
        Dilihat dari Umur Ekonomisnya
        Nilai Umur Ekonomis peralatan kecil biasanya melebihi satu (1) tahun buku akuntansi
        Dilihat dari Nilainya
        Peralatan kecil nilainya dalam perusahaan biasanya tidak material
        Contohnya seperti gunting, steples, obeng, meteran, penggaris dan lain sebagainya


        Karakter dari peralatan kecil yang seperti ini terkadang membikin kita bingung dalam bagaimana perlakuan akuntansinya !

        Kita atau banyak perusahaan yang mencatat peralatan kecil sebagai biaya.

        Melihat dari tingkat ke-materialitas-nya yang relatif tidak mahal. peralatan kecil memang banyak yang dikelompokkan kedalam biaya pada periode peralatan tersebut diperoleht karena melihat tingkat nilai material dari peralatan kecil ini.

        Misalnya biaya pembelian dongkrak, obeng atau pun penggaris banyak yang mencatatnya sebagai "biaya Peralatan". 

        Akan tetapi, dengan perlakuan akuntansi seperti itu, faktor umur ekonomis peralatan kecil yang melebihi 1 satu tahun buku bahkan ada yang bertahun tahun bila dirawat dengan baik menjadi terabaikan.

        Matching principle akuntansi menjadi tidak sesuai lagi jika memperlakukannya sebagai biaya.

        Namun, jika peralatan kecil kita masukkan ke kelompok aktiva tetap, bagaimana cara membebankan nantinya ?

        Bukankan nilai peralatan kecil ini nilainya relatif kecil ?

        Bisa membuat susah nantinya apalagi untuk perusahaan besar karena pasti ada ratusan hingga ribuan peralatan kecil yang digunakan.

        Akan sangat merepotkan menghitungnya.

        Lalu Bagaimana memperlakukan Peralatan Kecil?

        Saya kira ada dua penekanan yang bisa kita lakukan.

        Pertama kita lihat umur ekonomis peralatan kecil tersebut

        Lalu kemudian kita lihat nilai gabungan dari beberapa peralatan kecil tersebut.

        Telaah Umur Ekonomis Peralatan Kecilnya
        Pertimbangkan umur ekonomisnya terlebih dahulu, jika umur ekonomis peralatan kecil tersebut kurang dari 1 (satu) tahun buku, maka jelas kita langsung saja mengakuinya sebagai beban atau dibebankan pada periode yang sama saat peralatan tersebut diperoleh.
        Namun apabila peralatan kecil tersebut mempunyai umur atau masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun buku akuntansi, maka peralatan kecil ini "berpotensi" untuk dikelompokkan dalam aset tool & equipment.
        Ingat. "berpotensi" !
        Tapi hal ini masih memerlukan pertimbangan selanjutnya.
        Lihat nilai gabungan peralatan kecilnya !
        Pertimbangan yang diperlukan kedua adalah apabila peralatan kecil tersebut digabungkan dengan peralatan kecil yang lain, yang umurnya juga melebihi satu tahun buku dan nilai gabungannya menjadi nilai yang material
        Maka kita dapat mengelompokkan peralatan peralatan kecil tersebut ke dalam aset (peralatan dan perlengkapan).
        Untuk perusahaan kecil atau baru beroperasi mungkin belum banyak peralatan kecil yang digunakan, maka yang menjadi pertimbangan adalah potensi penggunaan peralatan kecil di masa mendatang karena mungkin saat ini peralatan nya jika digabungkan sekalipun nilainya tidak akan material,
        Tapi di masa yang akan datang, bisa saja peralatan peralatan kecil tersebut akan sangat signifikan nilai gabugannya.

        Membebankan Peralatan Kecil Gabungan


        Pembebanan peralatan kecil gabungan dilakukan menjelang penutupan buku dengan melakukan perhitungan fisik terhadap peralatan kecil gabungan tersebut.

        Jika pembebanan peralatan gabungan dilakukan dengan menyusutkan secara satu persatu dengan menggunakan metode garis lurus misalnya maupun saldo menurun tidaklah efektif..

        Saldo Awal peralatan kecil tersebut adalah nilai total pembelian atau semua yang dikeluarkan saat perolehan peralatan kecil tersebut.

        Sedangkan saldo akhir atau nilai buku dari peralatan kecil tersebut adalah hasil perhitungan fisik peralatan kecil tersebut.

        Dengan begitu, maka peralatan yang terpakai nilainya bisa ditentukan.

        Contoh

        Nama Peralatan Jml awal
        Jml akhir
        Terpakai
        Harga satuan
        Nilai Terpakai
        Nilai Buku
        Steples 50 20 30 20.000,- 600.000,- 400.000,-
        Penggaris 75 30 45 5.000,- 225.000,- 150.000,-
        Total








        825.000,-
        550.000,-

        Dari daftar di atas, kita bisa membuat pencatatan seperti ini :

        Debit | Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000
        Kredit | Akumulasi Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000


        Ok, Bisa dicerna kan ?

        Jika masih sulit dipahami, silahkan ditanyakan pada kolom komentar.

        Demikian pembahasan mengenai akuntansi peralatan kecil, jika dirasa bermanfaat, silahkan di share 


        Penjualan Aktiva Tetap | Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset

        Penjualan Aset Tetap


        Penarikan Aktiva - Dalam kondisi kondisi tertentu, suatu perusahaan menghadapi kondisi yang tak biasa dalam operasinya hingga mengharuskan atau memutuskan untuk melakukan PENJUALAN ASET TETAP.

        Padahal, tujuan awal perusahaan dalam membeli aset tetap tersebut adalah untuk digunakan dalam operasi perusahaan selama umur manfaat ekonominya demi mempertahankan kelangsungan usaha, baik itu untuk tempat, peralatan, untuk produksi maupun kegunaan lainnya.

        Intinya aset tetap pada awalnya tidak ditujukan untuk di jual kembali.
        Penghapusan Aktiva
        Penghapusan Aktiva Tetap
        Dalam kondisi tertentu, banyak alasan perusahaan harus memutuskan untuk melakukan penjualan aset tetap, kondisi kondisi seperti:
        • Perusahaan berganti jenis produk, sehingga mesin atau peralatan tertentu tidak dapat digunakan dan mubazir
        • Membutuhkan dana atau kekurangan dana, untuk bayar utang atau modal kerja
        • Perusahaan ditutup karena alasan tertentu dan tidak berproduksi kembali
        • Upgrade aktiva tetap, misal mobil yang sudah tua tua yang maintenance mahal diganti dengan yang baru, atau komputer yang sudah tidak mendukung lagi diganti dengan yang lebih canggih
         
          Penjualan Aktiva Tetap merupakan salah satu jenis penarikan aktiva.

          Bagaimana prosedur dan Perlakuan akuntansi nya?

          Perlakuan Akuntansi Pejualan Aset Tetap


          Dua langkah yang dilakukan dalam prosedur penjualan aset tetap:
          1. Update Nilai Buku Aset Tetap yang dijual
          2. Hapus Aset Tetap
          Tentu juga dengan beberapa beberapa langkah detilnya

          Contoh Kasus:
          Pada tanggal 6 Juli 2015, PT.Bunaji menjual mesin produksi-nya dengan harga Rp 150.000.000.
          Mesin ini di beli pada 02 February 2012 dan saat itu harga pembeliannya menghabiskan Rp 240.000.000.
          Beberapa catatan tambahan:
          PT. Bunaji memakai metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan aset tetap tanpa nilai sisa (nilai residu)
          Mesin diperkirakan memiliki umur ekonomis 10 Tahun.
          Berikut posisi Aset Mesin PT Bunaji per 31 Des 2014:

          Harga Perolehan = Rp 240.000.000
          Akumulasi penyusutan = (Rp.70.000.000)
          ----------------------------------------
          Nilai Buku Mesin = Rp 170.000.000



          Langkah Langkahnya:

          # 1. Update Nilai Buku Aset Tetap 

          • Menghitung penyusutan dari tangal 01 Januari – 6 Juli 2015
          Mesin di jual tanggal 6 Juli 2015, dimana tanggal 6 belum melewati setengah bulan, maka untuk bulan Juli dianggap mesin belum digunakann selama 1 bulan penuh, dan bulan juli penyusutan tidak perlu di hitung
          Penyusutan hanya dihitung hingga bulan juni saja.
          Penyusutan 1 Jan – 6 Juli 2015 :
          6/12 x (240.000.000/10) = Rp 12.000.000
          Lalu jurnal beban penyusutan tersebut :


          Depreciation Rp12.000.000

          Accum.Deprec Rp12.000.000

          Jurnal tersebut menambah biaya penyusutan dan menambah akumulasi penyusutan mesin sebesar Rp 12.000.000

          Sehingga "Accum Deprec Mesin" per tanggal 6 Juli 2015 adalah sebagai berikut :
          Accum Deprec per 31 Dec 2014 + Accum Deprec 01 Jan - 6 Juli '15 
          Rp 70.000.000 +  Rp 12.000.000
          = Rp 82.000.000
          Dan nilai Buku Aktiva Tetap Mesin per 6 Juli 2015 adalah :
          Rp 240.000.000 – Rp 82.000.000 = Rp 158.000.000


          Langkah berikutnya adalah penghapusan

          # 2. Penghapusan Aktiva Tetap Mesin


          Aset Tetap Mesin dihapus dengan jurnal :

          Kas / Piutang 150.000.000
          Accum Deprec Mesin 82.000.000
          Rugi Penjualan Aktiva 8.000.000
          Aktiva Tetap Mesin 240.000.000

          Notes:
          • Menghapus Aset Tetap Mesin dan juga akumulasi penyusutannya. penghapusan ini terjadi karena posting aset tetap mesin dimasukkan di kredit dan akumulasi penyusutan dicatat ke sisi Debit.
          • Mencatat kas masuk/mengakui piutang sebesar harga penjualan, 
          Jika transaksi penjualannya dibayar tunai, maka akun kas yang di pakai, tetapi jika opsinya penjualan secara kredit, maka piutang yang dipakai.
          • Mengakui Rugi penjualan aset tetap mesin sebesar selisih nilai buku terbaru/terupdate dengan harga nilai penjualan
           
              Bagaimana jika aset tetap dijual dengan harga diatas nilai buku aktiva setelah di update?

              Ya tinggal di balik saja jurnalnya, dari rugi menjadi akun Laba

              # 3. Pelaporan laba-rugi Penjualan Aset Tetap

              Laba/Rugi Penjualan Aset Tetap dilaporkan dalam Laporan Laba Rugi, didalam klasifikasi Pendapatan Lain lain.

              Apabila ada kesalahan atau kekeliruan pada tulisan, penjumlahan dan yang lainnya pada tulisan ini, silahkan tinggalkan komentar :)

              Kamis, 13 November 2014

              Aset Tetap Hilang Dicuri Maling? Begini Perlakuan Akuntansinya

              Berbicara Aset Tetap, Sudahkan Anda membaca Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap? Bagaimana seandainya jika aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan tiba tiba saja hilang tercuri maling? bagaimana Perlakuan Akuntansi Aset yang Hilang ?

              Aktiva TEtap Hilang TErcuri
              Aktiva Hilang Tercuri
              Aset Tetap yang hilang merupakan salah satu alasan penarikan aset tetap (Plant Asset Retirement). selain hilang, aset yang terbakar atau rusak juga merupakan alasan penarikan aset dengan kasus yang khusus, nanti akan saya tulis di lain postingan. Di tulisan ini akan saya bahas perlakuan dan prosedur penghapusan aset tetap yang hilang dicuri maling.

              Aset Tetap Hilang Tercuri (Theft Asset)


              Aset tetap hilang tercuri? memang kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi. Dalam kasus seperti ini aset tetap yang hilang tentu harus dihapus dari buku atau catatan perusahaan. Pengahapusan buku atas aset tetap dilakukan berdasarkan bukti Surat Kehilangan dari pihak pihak kepolisian. tetapi bagaimana seandainya jika surat laporan kehilangan dari pihak kepolisian tidak ada? maka tidak bisa dilakukan penghapusan, pembuktiannya sangat sulit saat laporan keuangan kepada stake holder, mereka bakal tidak percaya. nah untuk itu diperlukan surat lapor kehilangan dari pihak kepolisian sebagai dasar penghapusan aset tetap.

              Contoh Kasus

              Pada tanggal 6 Juni 2014, PT.Foraz kehilangan Mesin Printing yang dahulu dibeli pada tanggal 01 Maret 2014 dengan harga perolehan Rp 160,000,000. atas kehilangan tersebut pihak PT. Foraz telah melaporkannya kepada pihak kepolisian dengan surat lapor no. 0606/IV/SLK/POLRI/2014 tertanggal 06 Juni 2014

              Sekedar diketahui, PT Foraz Dalam menghitung penyusutannya menggunakan metode garis lurus. Diperkirakan umur ekonomis Mesin Printing diperkirakan 4 Tahun, dan PT Foraz tidak memperkirakan nilai sisa atau nilai residu pada aset mesin printing tersebut (nilai residu 0)
              Bagaimana Prosedur Penghapusan Mesin Printing Tersebut? 
              Prosedur penghapusannya sebenarnya sederhana saja:

              Ok, untuk langkah pertama

              Update Buku Aset Tetap Mesin Printing

              Upadate nilai buku dengan menghitung penyusutan mesin printing dari tanggal perolehan mesin hingga tanggal hilangnya mesin printing tersebut.

              Penyusutan 01 Maret – 06 Juni 2014:

              Mesin Printing telah dipergunakan selama 3 bulan

              Penyusutan = 3/12 x (160,000,000/4) = Rp 10.000.000

              Kemudian selanjutnya kita akui penyusutan mesin printing tersebut dengan jurnal :

              Debit | Depreciation Rp10.000.000
              Kredit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000


              Notes:
              Penjurnalan diatas untuk:
              • Mengakui Biaya Penyusutan sebesar Rp 10.000.000
              • Mengakui Akumulasi penyusutan dengan besaran nominal yang sama.


              Maka, Nilai Buku Handycam per 06 Juni 2014, tanggal dimana aset tersebut hilang tercuri:

              Perolehan mesin printing - Akumulasi penyusutan

              Rp 160.000.000 - Rp 10.000.000
              = Rp 150.000.000

              Jadi saat aset tersebut hilang, nilai bukunya sebesar Rp 150.000.000 

              Langkah Berikutnya:
              Hapus Aset Tetap (Mesin Printing) yang hilang

              Aset tetap yang hilang dihapuskan dengan jurnal:

              Debit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000
              Debit | Rugi Kehilangan Aktiva Tetap Rp150.000.000
              Kredit | Aktiva Tetap - Mesin Printing Rp160.000.000


              Kesimpulan : Kerugian diakui sebesar Nilai Buku Aset Tetap yang hilang.

              Pelaporan Penghapusan Aset Tetap yang Hilang


              Di akhir periode, Aset Tetap mesin printingnya sudah tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldo-nya sudah NOL sedangkan kerugian yang dialami diklasifikasikan ke dalam kelompok Pos Pos Luar Biasa (extra ordinary items). Dan dalam catatan laporan keuangan diberikan penjelasan mengenai terjadinya Extraordinary Items tersebut.
              Demikian tulisan tentang Perlakuan Aset Tetap Hilang Tercuri, bagaimana perlakuan Akuntansi jika aset tetap terbakar atau rusak? silahkan baca postingan saya selanjutnya disini:

              Jumat, 07 November 2014

              Penyusutan Metode Satuan Hasil Produksi

              Penyusutan Metode Satuan Hasl Produksi -  Postingan saya sebelumnya tentang penyusutan aset tetap dan beberapa metode penyusutan lengkap dengan contoh soalnya, jika belum membaca, silahkan baca di:
              Kini saya lanjutkan kembali bahasan dan contoh penyusutan aset tetap metode yang lainnya.


              Penyusutan Metode Satuan Hasil Produksi | Productive Output Method


              Dalam Penyusutan Aktiva Tetap dengan Metode Satuan Hasil Produksi, beban penyusutan ditetapkan berdasarkan jumlah output yang dihasilkan oleh aset pada periode yang berjalan atau bahasa lain beban penyusutan dihitung dengan Satuan Hasil Produksi, sehingga beban penyusutan tiap periode akan berfluktuasi mengikuti jumlah produksi yang dihasilkan.

              Metode satuan hasil produksi mengalokasikan biaya penyusutan berdasar atas proporsi pemakaian aset tetap yang sebenarnya. Metode ini menggunakan output atau hasil produksi sebagai dasar acuan alokasi beban penyusutan untuk setiap periode akuntansi.

              Beban penyusutan dalam metode satuan hasil produksi diperlakukan sebagai beban variable sesuai dngan unit output yang dihasilkan aset tetap tiap periode. kelemahannya sama dengan kelemahan pada metode jam jasa. metode ini masuk kategori depresiasi berdasarkan faktor penggunaan. metode ini memandang beban penyusutan sejalan dengan tingkat pemakaiannya, idealnya, metode satuan hasil produksi diterapkan pada jenis aset tetap mesin produksi.

              Berikut asumsi asumsi penyusutan metode hasil produksi digunakan:
              • Nilai aset tetap menurun karena penggunaan, bukan karena faktor waktu
              • Kerusakan serta ke-aus-an fisik aset adalah faktor penting, sedangkan tingkat Ke-usang-an bukan hal penting, 
              • Biaya maintenance dan perbaikan sifatnya proporsional terhadap penggunaan,
              • Tingkat efesiensi operasi sifatnya proporsional terhadap pemakaian aset, contohnya bahan bakar yang jumlahnya berfluktuasi.
              • Pendapatan sifatnya proporsional terhadap penggunaan aset tetap
              Metode hasil produksi merupakan metode penyusutan yang mengalokasikan beban penyusutan ke beberapa periode berdasarkan pada satuan unit yang diperoleh dari penggunaan aset tetap. Umur ekonomis aset tetap dinyatakan dalam satuan unit produksi, bukan berdasarkan tahun.

              Tarif penyusutan /Unit = (harga perolehan - nilai sisa)/taksiran jml produksi

              Penyusutan = produksi setahun x tarif penyusutan per unit

              Contoh soal dan jawaban penyusutan metode hasil produksi

              PT Foraz pada bulan januari 2014 membeli Sebuah mesin pabrik dengan harga perolehannya senilai Rp 125.000.000,00,- dan diprediksi memiliki masa manfaat hingga 5 tahun kedepan dengan nilai sisa/residu sebesar Rp 5.000.000,00,- diperkirakan mesin tersebut bisa berproduksi dan menghasilkan jumlah unit sebagai berikut:
              • Tahun Ke-1 = 15.000 unit
              • Tahun Ke-2 = 13.500 unit
              • Tahun Ke-3 = 12.000 unit
              • Tahun Ke-4 = 11.500 unit
              • Tahun Ke-5 =   8.000 unit
              Tarif penyusutan per unit:
              125.000.000 - 5.000.000
              60.000
              =
              2.000

              ok, tarif penyusutan sudah kita ketahui, kita bisa susun tabel penyusutan pertahunnya:
              penyusutan metode hasil produksi
              penyusutan metode satuan hasil produksi
              saat pencatatan jurnalnya, sama saja dengan metode metode sebelumnya

              Jurnal Penyusutan Tahun 2014 :

              Debit | Depreciation Rp30.000.000
              Kredit | Akumulated Depreciation Rp30.000.000


              Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

              Jurnal Penyusutan Tahun 2015 :

              Debit | Depreciation Rp27.000.000
              Kredit | Akumulated Depreciation Rp27.000.000


              Untuk penjurnalan tahun tahun berikutnya sama saja, tinggal diteruskan

              Saya rasa sudah cukup penjelasan tentang Penyusutan Metode Satuan Hasil Produksi, dan selesai pula pembahasan tentang penyusutan aset tetap. jika ada yang tidak jelas, mohon kritik dan sarannya dan semoga bermanfaat 


              Kamis, 06 November 2014

              Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja

              Postingan saya sebelumnya tentang penyusutan aset tetap juga metode lainnya lengkap dengan contoh soal silahkan baca di:
              Kini saya lanjutkan kembali bahasan dan contoh penyusutan aset tetap metode yang lainnya.

              penyusutan aset metode satuan jam kerja
              penyusutan metode satuan jam kerja

              Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja | Service Hours Method


              Pada konsep dasarnya, pemikiran dasar dari Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja didasarkan pada pemikiran bahwa, berkurangnya nilai suatu aset disebabkan oleh berapa jam lamanya aset tersebut digunakan, atau dioperasikan oleh perusahaan selama umur ekonomisnya. belum tentu aset tetap berkurang nilainya gara lama waktu suatu aset yang dimiliki perusahaan. jadi disini, metode ini berdasar bahwa berkurangnya suatu aset tetap perusahaan disebabkan oleh MASA PAKAI.bukan lama waktu aset tersebut saat tahun beroperasi.

              Contoh sederhananya, motor yang baru dibeli, lalu dipakai tiap hari, maka motor itu akan cepat rusak atau paling tidak cepet membutuhkan biaya perawatan yang lebih dibandingkan apabila motor itu jarang digunakan.

              Penyusutan aset tetap metode satuan jam kerja ini pada prakteknya, metode ini sering kali di abaikan, karena alasan pajak.

              Rumus untuk menghitung besarnya penyusutan metode satuan jam kerja adalah sebagai berikut:
              penyusutan metode satuan jam kerja
              rumus tarif penyusutan per jam
              Sedangkan untuk menghitung besaran penyusutan per periode adalah sebagai berikut caranya:
              penyusutan metode satuan jam kerja
              beban penyusutan

              Contoh soal penyusutan metode satuan jam kerja

              Pada bulan Januari, PT Foraz membeli sebuah mesin dengan harga perolehan saat pembelian sebesar Rp 10.000.000,00 aset tetap berupa mesin tersebut, oleh ahli diperkirakan dapat berproduksi selama 10.000 jam dengan prediksi rentangan waktu penggunaan sebagai berikut:
              • Tahun ke-1      = 3.000 jam
              • Tahun ke-2      = 2.000 jam
              • Tahun ke-3      = 2.000 jam
              • Tahun ke-4      = 1.500 jam
              • Tahun ke -5     = 1.500 jam
              Setelah berproduksi selama 10.000 jam, aset tetap mesin tersebut diperkirakan masih bisa dijual dengan harga Rp. 500.000,00

              # Pertama kita hitung dulu tarif penyusutan mesin perjam

              Rp 10.000.000 -  Rp 500.000
              10.000
              Tarif Penyusutan = 950

              Ok, jika tarif penyusutan aset tetapnya sudah diketahui, kita selanjutnya bisa membuat tabel penyusutannya sebagai berikut:

              penyusutan metode satuan jam kerja
              penyusutan metode satuan jam kerja
              Pada tabel penyusutan diatas, tampak bahwa menurut metode satuan jam kerja, beban penyusutan untuk tiap periode akuntansi bervariasi, besarnya akan sebanding dengan jam kerja (kapasitas) aset tetap yang sesungguhnya dapat dicapai.

              Pencatatan, Jurnalnya sama saja dengan metode metode penyusutan aset tetap yang lain.

              Jurnal Penyusutan Tahun Pertama

              Debit | Depreciation Rp2.850.000
              Kredit | Akumulated Depreciation Rp2.850.000


              Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

              Jurnal Penyusutan Tahun ke-2

              Debit | Depreciation Rp1.900.000
              Kredit | Akumulated Depreciation Rp1.900.000


              Untuk penjurnalan tahun tahun berikutnya sama saja, tinggal diteruskan

              Demikian pembahasan mengenai penyusutan aset tetap metode satuan jam kerja. Postingan berikutnya, baca juga penyusutan aset tetap metode satuan hasil produksi, di:



              Rabu, 05 November 2014

              Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun

              Postingan saya sebelumnya tentang penyusutan aset tetap, jika belum membaca, silahkan baca di:
              Kini saatnya membahas penyusutan dan contoh soal penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun
              metode jumlah angka tahun
              Metode Jumlah Angka Tahun

              Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun | Sum of The Years Digit Method


              Pada dasarnya, Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun mempunyai dasar konsep yang mirip dengan konsep metode penyusutan saldo menurun.

              Metode jumlah angka tahun merupakan penyusutan dipercepat berdasar pada pertimbangan biaya maintenance (perawatan) serta perbaikan aktiva tetap semakin lama cenderung bertambah seiring pertambahan usia aktiva tetap itu sendiri.

              Layaknya metode saldo menurun, semakin lama aset tetap beroperasi, maka tingkat aus-nya semakin tinggi.

              Butuh biaya pemeliharaan yang makin tinggi dengan kontribusi bagi perusahaan yang menurun, tidak se "joss" saat awal awal aset tetap tersebut di peroleh.

              Mesin contohnya, makin lama makin menurun performanya. tidak seperti awal awal mesin baru, mesin yang lebih lama cenderung menurun performanya.

              Nilai penyusutan yang berkurang pada periode berikutnya akan diimbangi oleh meningkatnya biaya maintenance dan juga perbaikan.

              Mesin tua kerjanya sudah tidak optimal, cepat rusak pula

              Dalam menentukan tarif penyusutan aset tetap dalam bentuk pecahan yang diitung dengan cara:
              • Pembilang (numerator) menggunakan angka tahun dimulai tahun yang terbesar ke tahun terkecil.
              • Penyebut (denumerator) adalah jumlah angka tahun.

              Contoh, jika umur ekonomis aset adalah selama 4 tahun maka penyebut bilangan (angka) pecahannya adalah jumlah angka tahun yaitu 1 + 2 + 3 + 4 = 10.

              Angka pembilang tahun ke-1 hingga tahun ke-4 masing-masing adalah 4,3,2, dan 1.

              Tarif penyusutan tahun ke-1 adalah 4/10, tahun ke-2 adalah 3/10, tahun ketiga 2/10 serta terakhir tahun keempat 1/10.

              Contoh soal penyusutan metode jumlah angka tahun

              Pada tanggal 2 Januari 2014, PT Foraz membeli sebuah mesin untuk meningkatkan produksinya, Harga perolehan Mesin Sebesar Rp 135.000.000,00 dengan taksiran nilai sisa (salvage value) sebesar Rp 15.000.000,00, dan ditaksir, mesin tersebut hanya mampu berproduksi sampai dengan 4 tahun.

              Perhitungan:

              JAT : 1+2+3+4 = 10

              Dasar Penyusutan : Rp 135.000.000,00 - Rp 15.000.000,00 = Rp 120.000.000,00

              Tahun           Tarif           Dasar Penyusutan                    Penyusutan
                1.                 4/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 48.000.000,00
                2                  3/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 36.000.000,00
                3                  2/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 24.000.000,00
                4                  1/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 12.000.000,00

              Pencatatan:
              Jurnalnya sama saja dengan metode garis lurus ataupun saldo menurun.

              31 Desember 2014

              Debit | Depreciation Rp48.000.000
              Kredit | Akumulated Depreciation Rp48.000.000


              Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

              31 Desember 2015

              Debit | Depreciation Rp36.000.000
              Kredit | Akumulated Depreciation Rp36.000.000


              Begitupun dengan jurnal jurnal tahun berikutnya, sama. hanya angka yang berbeda :)
              tidak perlu saya tulis, nanti jadi panjang.. he he

              Mudah bukan? eh tunggu,.. bagaimana jika aset tetap yang diperoleh, tidak pada awal tahun?
              dicontoh di atas tanggal 2 januari, bagaimana jika seandainya aset tetap diperoleh misal, pada bulan 12 Agustus? heh?

              Ok, sebenarnya dasarnya sama saja, tapi pengerjaannya rada lebih lama dikit, pada tahun 2014, aset cuma digunakan selama 5 bulan saja. perhitungan tarifnya tetap, hanya di bagi selama 5 bulan dari 12 bulan yang ada 

              Tahun pertama (2014)

              Penyusutan = 4/10 x 5/12 x  120.000.000 = Rp 20.000.000

              Dan pada tahun berikutnya 2015.

              Penyusutan :

              4/10 x 7/12 x 120.000.000 = 28.000.000
              3/10 x 5/12 x 120.000.000 = 15.000.000 +
                                               Rp    43.000.000

              # Dari mana angka 7/12? dan kenapa tarif tahun 2015 masih menggunakan tarif tahun pertama (4/10)?

              Karena pada tahun pertama, tarif 4/10 hanya digunakan selama 5 bulan saja, maka sisanya 7 bulan digunakan pada penyusutan tahun ke dua, dan setelah tahun kedua dihitung dengan tarif tahun pertama selama 7 bulan, (7/12) maka sisa 5 bulan berikutnya menggunakan tarif tahun berikurnya (3/10)

              Begitu juga dengan tahun tahun berikutnya, pengerjaannya sama saja.

              Pencatatan jurnalnya pun juga sama saja, tapi hanya berbeda di angka penyusutannya yang dihasilkan.

              Notes:
              Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun ini jarang sekali digunakan, karena pertimbangan perpajakan, di sini, aturan perpajakan membatasi metode ini, laporan pajak tidak bisa menggunakan metode ini dalam pelaporannya.

              Ok, cukup segini yang bisa saya share tentang Penyusutan Aset Tetap Metode Jumlah Angka Tahun, apabila ada yang salah, kritik atau pun jika belum paham silahkan berkomentar. :)

              Selanjutnya silahkan baca postingan berikutnya tentang penyusutan metode satuan jam kerja di: