Kamis, 06 November 2014

Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja

Postingan saya sebelumnya tentang penyusutan aset tetap juga metode lainnya lengkap dengan contoh soal silahkan baca di:
Kini saya lanjutkan kembali bahasan dan contoh penyusutan aset tetap metode yang lainnya.

penyusutan aset metode satuan jam kerja
penyusutan metode satuan jam kerja

Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja | Service Hours Method


Pada konsep dasarnya, pemikiran dasar dari Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja didasarkan pada pemikiran bahwa, berkurangnya nilai suatu aset disebabkan oleh berapa jam lamanya aset tersebut digunakan, atau dioperasikan oleh perusahaan selama umur ekonomisnya. belum tentu aset tetap berkurang nilainya gara lama waktu suatu aset yang dimiliki perusahaan. jadi disini, metode ini berdasar bahwa berkurangnya suatu aset tetap perusahaan disebabkan oleh MASA PAKAI.bukan lama waktu aset tersebut saat tahun beroperasi.

Contoh sederhananya, motor yang baru dibeli, lalu dipakai tiap hari, maka motor itu akan cepat rusak atau paling tidak cepet membutuhkan biaya perawatan yang lebih dibandingkan apabila motor itu jarang digunakan.

Penyusutan aset tetap metode satuan jam kerja ini pada prakteknya, metode ini sering kali di abaikan, karena alasan pajak.

Rumus untuk menghitung besarnya penyusutan metode satuan jam kerja adalah sebagai berikut:
penyusutan metode satuan jam kerja
rumus tarif penyusutan per jam
Sedangkan untuk menghitung besaran penyusutan per periode adalah sebagai berikut caranya:
penyusutan metode satuan jam kerja
beban penyusutan

Contoh soal penyusutan metode satuan jam kerja

Pada bulan Januari, PT Foraz membeli sebuah mesin dengan harga perolehan saat pembelian sebesar Rp 10.000.000,00 aset tetap berupa mesin tersebut, oleh ahli diperkirakan dapat berproduksi selama 10.000 jam dengan prediksi rentangan waktu penggunaan sebagai berikut:
  • Tahun ke-1      = 3.000 jam
  • Tahun ke-2      = 2.000 jam
  • Tahun ke-3      = 2.000 jam
  • Tahun ke-4      = 1.500 jam
  • Tahun ke -5     = 1.500 jam
Setelah berproduksi selama 10.000 jam, aset tetap mesin tersebut diperkirakan masih bisa dijual dengan harga Rp. 500.000,00

# Pertama kita hitung dulu tarif penyusutan mesin perjam

Rp 10.000.000 -  Rp 500.000
10.000
Tarif Penyusutan = 950

Ok, jika tarif penyusutan aset tetapnya sudah diketahui, kita selanjutnya bisa membuat tabel penyusutannya sebagai berikut:

penyusutan metode satuan jam kerja
penyusutan metode satuan jam kerja
Pada tabel penyusutan diatas, tampak bahwa menurut metode satuan jam kerja, beban penyusutan untuk tiap periode akuntansi bervariasi, besarnya akan sebanding dengan jam kerja (kapasitas) aset tetap yang sesungguhnya dapat dicapai.

Pencatatan, Jurnalnya sama saja dengan metode metode penyusutan aset tetap yang lain.

Jurnal Penyusutan Tahun Pertama

Debit | Depreciation Rp2.850.000
Kredit | Akumulated Depreciation Rp2.850.000


Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

Jurnal Penyusutan Tahun ke-2

Debit | Depreciation Rp1.900.000
Kredit | Akumulated Depreciation Rp1.900.000


Untuk penjurnalan tahun tahun berikutnya sama saja, tinggal diteruskan

Demikian pembahasan mengenai penyusutan aset tetap metode satuan jam kerja. Postingan berikutnya, baca juga penyusutan aset tetap metode satuan hasil produksi, di:



Rabu, 05 November 2014

Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun

Postingan saya sebelumnya tentang penyusutan aset tetap, jika belum membaca, silahkan baca di:
Kini saatnya membahas penyusutan dan contoh soal penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun
metode jumlah angka tahun
Metode Jumlah Angka Tahun

Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun | Sum of The Years Digit Method


Pada dasarnya, Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun mempunyai dasar konsep yang mirip dengan konsep metode penyusutan saldo menurun.

Metode jumlah angka tahun merupakan penyusutan dipercepat berdasar pada pertimbangan biaya maintenance (perawatan) serta perbaikan aktiva tetap semakin lama cenderung bertambah seiring pertambahan usia aktiva tetap itu sendiri.

Layaknya metode saldo menurun, semakin lama aset tetap beroperasi, maka tingkat aus-nya semakin tinggi.

Butuh biaya pemeliharaan yang makin tinggi dengan kontribusi bagi perusahaan yang menurun, tidak se "joss" saat awal awal aset tetap tersebut di peroleh.

Mesin contohnya, makin lama makin menurun performanya. tidak seperti awal awal mesin baru, mesin yang lebih lama cenderung menurun performanya.

Nilai penyusutan yang berkurang pada periode berikutnya akan diimbangi oleh meningkatnya biaya maintenance dan juga perbaikan.

Mesin tua kerjanya sudah tidak optimal, cepat rusak pula

Dalam menentukan tarif penyusutan aset tetap dalam bentuk pecahan yang diitung dengan cara:
  • Pembilang (numerator) menggunakan angka tahun dimulai tahun yang terbesar ke tahun terkecil.
  • Penyebut (denumerator) adalah jumlah angka tahun.

Contoh, jika umur ekonomis aset adalah selama 4 tahun maka penyebut bilangan (angka) pecahannya adalah jumlah angka tahun yaitu 1 + 2 + 3 + 4 = 10.

Angka pembilang tahun ke-1 hingga tahun ke-4 masing-masing adalah 4,3,2, dan 1.

Tarif penyusutan tahun ke-1 adalah 4/10, tahun ke-2 adalah 3/10, tahun ketiga 2/10 serta terakhir tahun keempat 1/10.

Contoh soal penyusutan metode jumlah angka tahun

Pada tanggal 2 Januari 2014, PT Foraz membeli sebuah mesin untuk meningkatkan produksinya, Harga perolehan Mesin Sebesar Rp 135.000.000,00 dengan taksiran nilai sisa (salvage value) sebesar Rp 15.000.000,00, dan ditaksir, mesin tersebut hanya mampu berproduksi sampai dengan 4 tahun.

Perhitungan:

JAT : 1+2+3+4 = 10

Dasar Penyusutan : Rp 135.000.000,00 - Rp 15.000.000,00 = Rp 120.000.000,00

Tahun           Tarif           Dasar Penyusutan                    Penyusutan
  1.                 4/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 48.000.000,00
  2                  3/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 36.000.000,00
  3                  2/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 24.000.000,00
  4                  1/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 12.000.000,00

Pencatatan:
Jurnalnya sama saja dengan metode garis lurus ataupun saldo menurun.

31 Desember 2014

Debit | Depreciation Rp48.000.000
Kredit | Akumulated Depreciation Rp48.000.000


Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

31 Desember 2015

Debit | Depreciation Rp36.000.000
Kredit | Akumulated Depreciation Rp36.000.000


Begitupun dengan jurnal jurnal tahun berikutnya, sama. hanya angka yang berbeda :)
tidak perlu saya tulis, nanti jadi panjang.. he he

Mudah bukan? eh tunggu,.. bagaimana jika aset tetap yang diperoleh, tidak pada awal tahun?
dicontoh di atas tanggal 2 januari, bagaimana jika seandainya aset tetap diperoleh misal, pada bulan 12 Agustus? heh?

Ok, sebenarnya dasarnya sama saja, tapi pengerjaannya rada lebih lama dikit, pada tahun 2014, aset cuma digunakan selama 5 bulan saja. perhitungan tarifnya tetap, hanya di bagi selama 5 bulan dari 12 bulan yang ada 

Tahun pertama (2014)

Penyusutan = 4/10 x 5/12 x  120.000.000 = Rp 20.000.000

Dan pada tahun berikutnya 2015.

Penyusutan :

4/10 x 7/12 x 120.000.000 = 28.000.000
3/10 x 5/12 x 120.000.000 = 15.000.000 +
                                 Rp    43.000.000

# Dari mana angka 7/12? dan kenapa tarif tahun 2015 masih menggunakan tarif tahun pertama (4/10)?

Karena pada tahun pertama, tarif 4/10 hanya digunakan selama 5 bulan saja, maka sisanya 7 bulan digunakan pada penyusutan tahun ke dua, dan setelah tahun kedua dihitung dengan tarif tahun pertama selama 7 bulan, (7/12) maka sisa 5 bulan berikutnya menggunakan tarif tahun berikurnya (3/10)

Begitu juga dengan tahun tahun berikutnya, pengerjaannya sama saja.

Pencatatan jurnalnya pun juga sama saja, tapi hanya berbeda di angka penyusutannya yang dihasilkan.

Notes:
Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun ini jarang sekali digunakan, karena pertimbangan perpajakan, di sini, aturan perpajakan membatasi metode ini, laporan pajak tidak bisa menggunakan metode ini dalam pelaporannya.

Ok, cukup segini yang bisa saya share tentang Penyusutan Aset Tetap Metode Jumlah Angka Tahun, apabila ada yang salah, kritik atau pun jika belum paham silahkan berkomentar. :)

Selanjutnya silahkan baca postingan berikutnya tentang penyusutan metode satuan jam kerja di:

Selasa, 04 November 2014

Penyusutan Metode Saldo Menurun | Declining Balance Method

Postingan saya sebelumnya tentang penyusutan aset tetap, jika belum membacanya, silahkan baca di:
Kali ini akan saya bahas mengenai Metode Penyusutan Saldo Menurun

metode saldo menurun
Metode Saldo Menurun

Penyusutan Aset Tetap Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)


Pada dasarnya, Aset Tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesarnya pada awal awal masa penggunaan.

Ya ini karena mesin masih dalam kondisi gress, segar dengan kekuatan yang masih optimal.

Masih jauh dari masa aus (rusak) mesin atau aset tetap yang lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, kontribusi aset terbesar tersebut mulai menurun, kinerjanya tak lagi bisa maksimal, mesin tak lagi muda dan turun performa, gedung mulai reyot reyot, kendaraan mulai mogok mogok dan lain sebagainya.

Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aset tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aset mesin produksi.

Rumus Depresiasi Saldo Menurun

Penyusutan = [(100% : Umur Ekonomis) x 2] x Nilai Perolehan/Nilai Buku

Contoh kasus penyusutan metode saldo menurun:

Supaya lebih mudah, kita gunakan contoh kasus sebelumnya yang kita kerjakan menggunakan metode garis lurus

Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13,000,000 dan mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun

Apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan, besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000,000.

Dalam pencatatan akuntansi aset tetap, perusahaan menggunakan metode penyusutan saldo menurun.

Penyusutan tahun 2014 :

[(100% : 10) x 2 ] x 7/12 x 13.000.000 = Rp 1.516.710

Notes :
Karena selama tahun 2014 aset hanya digunakan 7 bulan, maka dikali 7/12

Penyusutan tahun 2015 :

[(100% : 10) x 2 ] x (13.000.000 - 1.516.710) = 2.296.658

Notes :
Nilai buku aset tahun 2015 dikurangi penyusutan aset tahun sebelumnya, sebesar Rp 1.516.710
Untuk tahun tahun setelahnya, cara pengerjaanya sama, hingga 10 tahun masa pengoperasian mesin tersebut.

Lalu saat pencatatan, jurnal nya adalah sama dengan metode garis lurus, cuma beda di angka saja

31 Desember 2014

Debit | Depreciation Rp1.516.710
Kredit | Accumulated Depreciation Rp1.516.710

Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

31 Desember 2015

Debit | Depreciation Rp2.296.658
Kredit | Accumulated Depreciation Rp2.296.658


Jurnal jurnal penyusutan tahun tahun berikutnya sama saja, jadi tidak perlu dijelaskan lagi. :)

# Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian !

Jurnal penyesuaian ini untuk mengakui adanya beban pada aset mesin ini. penyesuaian atas penyusutan aset tetap ini sejumlah akumulasi penyusutan selama periode berjalan.

Pencatatan dalam jurnal penyesuaian:

Contoh Jurnal Penyesuaian Aset Tetap Mesin Tahun 2014

Debit | Accumulated Depreciation Rp1.516.710
Kredit | Depreciation Expense Rp1.516.710

Jurnal Penyesuaian tahun 2015

Debit | Accumulated Depreciation Rp2.296.658
Kredit | Depreciation Expense Rp2.296.695


Untuk jurnal penyesuaian tahun tahun berikutnya, cara pengerjaanya sama saja.

Notes:
Dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun ini, jumlah angka penyusutan tiap tahun akan mengalami penurunan penyusutan tiap tahunnya.
Hal ini menunjukkan bahwa aset tetap (khususnya mesin) memberikan kinerja, manfaat terbaiknya terhadap perusahaan berada pada saat awal awal aset tetap tersebut digunakan, semakin lama semakin menurun kinerja aset tetap tersebut karena keausan.

Itu tadi contoh perhitungan mengenai Penyusutan Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method).

Selanjutnya, penyusutan aset tetap metode jumlah angka tahun, silahkan baca pada postingan saya berikutnya di : Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun


Senin, 03 November 2014

Penyusutan Metode Garis Lurus | Straight Line Method

Penyusutan Metode Garis Lurus


Seperti di ketahui, metode penyusutan terdiri dari beberapa metode, diantaranya:
  • Metode Penyusutan Garis Lurus
  • Metode Penyusutan Menurun Ganda
  • Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun
  • Metode Penyusutan Satuan Jam Kerja
  • Metode Penyusutan Satuan Hasil Produksi
Apapun metode dan jenis aset yang digunakan, perusahaan sebaiknya menerapkan salah satu metode yang ada dengan konsisten, tidak mengubah-ubah metode penyusutan yang dipakainya.

Dan jikapun melakukan perubahan metode penyusutan, hendaknya diberikan penjelasan mengenai sistem akuntansi yang dipakai dalam laporan keuangan disertai alasannya.

Metode Penyusutan Garis Lurus | Straight Line Method


Penyusutan Metode Garis Lurus ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia.

Metode garis lurus ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata di sepanjang masa penggunaannya, sehingga aset tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aset tetap ditarik dari penggunaannya dalam operasional perusahaan.

Perhitungan Penyusutannya:

penyusutan aset metode garis lurus
rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus

Bisa juga menggunakan persentase:

penyusutan aset metode garis lurus
rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus

Contoh Penyusutan Metode Garis Lurus :

Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13,000,000

Mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun, dan apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan (spesialisasi orang madura nih, hehe becanda) besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000,000.

Dalam pencatatan akuntansi aset tetap, perusahaan menggunakan METODE GARIS LURUS

Perhitungan Penyusutan :

Beban penyusutan untuk tahun 2014, dihitungan dengan cara :

Beban Penyusutan = 7/12 x [(Rp 13,000,000 – 1.000,000) : 10 tahun]
 = Rp 699.999 ==> kita bulatkan saja Rp 700.000

# Tunggu Darimana angka 7/12 ?

Ok, Dalam 1 tahun, terdapat 12 bulan, dan mesin tersebut mulai dioperasikan mulai Bulan Juni

Jadi selama tahun 2014, mesin tersebut digunakan pada bulan :

Juni - Juli - Agustus - September - Oktober - November - Desember.

Jadi pada tahun 2014, Mesin tersebut digunakan selama 7 Bulan
Maka penyusutan selama 7 Bulan tersebut : 7/12
Seandainya mesin tersebut diperoleh tanggal 1 januari, maka pada tahun 2014 mesin tersebut digunakan selama 12 bulan dan dihitung dengan cara =

12/12 x [(Rp 13,000,000 – 1.000,000) : 10] …….dan seterusnya

Dan untuk tahun 2015, maka beban penyusutannya selama 12 bulan full jadi menggunakan 12/12

Atas pembebanan penyusutan ini dicatat sebagai berikut :

31 Desember 2014

Debit | Depreciation Rp700.000
Kredit | Accumulated Depreciation Rp700.000


# Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian

Untuk mengakui adanya beban pada mesin ini, penyesuaian atas penyusutan mesin ini sejumlah akumulasi penyusutan selama periode berjalan.

Pencatatan dalam jurnal penyesuaian:

Debit | Accumulated Depreciation Rp700.000
Kredit | Depreciation Expense Rp700.000


Demikianlah metode penyusutan Metode Garis Lurus, untuk metode selanjutnya, metode penyusutan menurun ganda, silahkan baca :

Penyusutan Aset Tetap | Depreciation

Penyusutan Aktiva Tetap


Penyusutan - Setelah Aset Tetap diperoleh, maka aset tetap tersebut akan digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasional dan produksinya. dalam fase ini, perlakuan akuntansi atas aset tetap perusahaan ada beberapa perlakuan, salah satu perlakuan akuntansi Aset Tetap adalah Penyusutan Aset Tetap, selain perlakuan yang lainnya seperti expenditure dan revaluasi aset tetap yang akan saya bahas juga nantinya.

Penyusutan Aktiva Tetap (Depreciation) merupakan konsekuensi dari penggunaan aktiva tetap dimana aktiva tetap akan mengalami penurunan fungsi.

penyusutan aktiva tetap
Penyusutan
Standar Akuntansi Keuangan menyatakan penyusutan atau depresiasi aset tetap merupakan jumlah yang bisa disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama massa manfaat aset tetap menggunakan berbagai metode penyusutan yang sistematis. Apapun metode penyusutan yang digunakan, diperlukan konsistensi dalam aplikasinya, tidak berubah ubah, tanpa memandang pertimbangan pajak ataupun tingkat keuntungan perusahaan supaya bisa memberikan daya banding hasil operasional entitas dari beberapa periode.

Dalam bahasa sederhana, penyusutan aset tetap ialah biaya perolehan Aset Tetap yang dialokasikan kepada Biaya Operasional akibat penggunaan aset tetap. atau dengan kata lain biaya yang dibebankan kedalam harga pokok produksi sebagai akibat dari penggunaan aset tetap dalam proses produksi serta operasional entitas secara umum.

Contoh Jurnal Atas Penyusutan Aset Tetap sebagai berikut:

Bentuk Jurnalnya :

Debit | Penyusutan Rp xxx
Kredit | Akumulasi Penyusutan  Rp xxx

Biasanya dicatat saat tutup buku, besarnya nilai penyusutan tergantung dari beberapa faktor dan Ini dia beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besarnya penyusutan.

Faktor Faktor Penyusutan Aktiva Tetap

  • Harga Perolehan [Acquisition Cost]
Faktor yang sangat berpengaruh atas besaran biaya penyusutan adalah harga perolehan atau acquisition cost, saya sudah memposting artikelnya untuk lebih jelasnya silahkan baca: Perolehan Aktiva Tetap
  • Nilai Residu atau Nilai Sisa Aset [Salvage Value]
Nilai Sisa Aset adalah prediksi atau taksiran potensi arus kas masuk bila aset tersebut dijual pada saat penarikan atau penghentian aset. Salvage Value tidak harus/selalu ada, misalnya pada masa penarikannya asetnya tidak bisa dijual atau tidak laku untuk dijual. hanya jadi limbah saja
  • Umur Ekonomis Aset Tetap (Economical Life Time)
Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis. Biasanya aset tetap memiliki Dua jenis umur:
    1. Umur fisik Aset Tetap, berhubungan dengan kondisi fisik suatu aset tetap. Suatu aset memiliki umur fisik jika secara fisik aset tetap masih baik kondisinya meskipun mengalami penurunan fungsi.
    2. Umur Fungsional Aset Tetap, berhubungan dengan kontribusi aset tetap tersebut dalam penggunaanya. Aset Tetap masih mempunyai umur fungsional jika aset tetap tersebut masih memberikan manfaat atau kontribusi dalam operasional produksi perusahaan meskipun secara fisik suatu aset tersebut sudah tidak baik Dan atau bahkan jika suatu fisik aset perusahaan masih dikatakan baik, tapi karena tidak berkontribusi bagi perusahaan, maka aset belum tentu memiliki umur fungsional.

    Metode Metode Penyusutan Aset Tetap  (Depreciation Method)

    • Metode penyusutan yang berdasarkan waktu yaitu metode garis lurus, metode pembebanan yang menurun yang terdiri dari metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun atau metode saldo menurun berganda.
    • Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu metode jam jasa dan metode jumlah unit produksi.
    • Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria lainnya yaitu metode berdasarkan jenis kelompok, metode analisis, metode sistem persediaan.
    Namun, kebanyakan di Indonesia hanya ada beberapa metode saja yang sering digunakan dalam praktenya, berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling sering diaplikasikan karena mudah dan juga relevan dengan perlakuan akuntansi.

    Metode Garis Lurus [ Straight Line Method ]

    Metode ini menganggap aset tetap akan mengalirkan manfaat yang merata disepanjang penggunaannya, sehingga aset tetap dianggap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama besar disetiap periode penggunaan hingga aset tetap tidak dapat digunakan lagi.

    Metode ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode penyusutan garis lurus digunakan untuk menyusutkan aset tetap yang fungsinya tak terpengaruh oleh besarnya volume output yang dihasilkannya, semisal bangunan, peralatan kantor dll

    Metode Saldo Menurun [ Declining Balance Method ]

    Dalam Metode saldo menurun ini, aset tetap tetap diasumsikan memberikan manfaat terbesarnya pada periode awal masa penggunaan, dan akan mengalami penurunan fungsi yang makin besar di periode-periode berikutnya seiring umur ekonomis aset tetap yang berkurang. jadi semakin lama penggunaan aset tetap maka kontribusinya akan menurun dalam operasional perusahaan. Metode saldo menurun ini cocok diaplikasikan pada aset tetap dimana tingkat ke-aus-annya bergantung dari volume output yang dihasilkan, contohnya mesin produksi.

    Untuk contoh soal perhitungan dan penjelasan detail lainnya juga metode metode penyusutan yang lain silahkan baca lanjutan artikel ini di link dibawah ini:

    Minggu, 02 November 2014

    Perolehan Aset Tetap Dibeli Dengan Saham (Surat Berharga)

    Perolehan Aktiva Tetap sudah dijelaskan di postingan postingan sebelumnya, silahkan jika mau anda baca lagi disini:
    Perolehan Aktiva Tetap dibeli Saham
    Perolehan Aktiva Tetap Dibeli Saham

    Aset Dibeli Dengan Saham/Obligasi atau Menerbitkan Surat Berharga (Insuence of Securities)


    perolehan aset tetap dibeli dengan saham
    aset tetap dibeli dengan saham
    Aset yang diperoleh dengan  surat berharga (saham atau obligasi) diakui senilai harga pasar saham/obligasi. Apabila harga pasar sahamnya tak diketahui maka harga perolehan aset diakui sebesar harga pasar dari aset yang diperoleh. Pertukaran aset dengan surat berharga dicatat dalam akun rekening hutang obligasi atau modal saham sebesar nilai nominal. Selisih nilai tukar dengan nilai nominal diakui dan dicatat dalam rekening Premium (Agio Saham) atau Discount (Disagio Saham)

    Poin poinnya:
    • Perolehan aest tetap diakui sebesar Harga Pasar saham yang dikeluarkan pada saat pembelian aset terjadi.
    • Apabila harga pasar lebih besar/tinggi dari harga nominalnya maka diakui adanya premiun (Agio Saham)
    • Apabila harga pasar lebih kecil dari harga nominalnya, maka diakui adanya Discount (Disagio Saham)

    Contoh Kasus :

                PT. Foraz menukar 2.000 lembar saham biasa dengan nominal Rp 10.000/lembar, diketahui pada saat pertukaran harga pasar saham Rp. 11.000 /lembar, maka

    Nilai Kurs : 2.000 x Rp 11.000 = Rp22.000.000
    Nilai Nominal : 2.000 x Rp 10.000 = (Rp20.000.000)
    Premium on Common Stock = Rp2.000.000

    Jurnal :

    Debit | Machine Rp22.000.000
    Kredit | Common Stock Rp20.000.000
    Kredit | Premium on Common Stock Rp2.000.000


    #Pertanyaan nyeleneh
    Saya lagi lagi bingung, tentang konsep dasar pengakuan perolehan aset tetap, disepakati bahwa aset tetap diakui sebesar harga perolehan, dimana harga perolehan itu menurut definisi dan kesepakatan bersama merupakan semua biaya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap. nah jika kita mendapatkan dengan menggunakan surat berharga, kenapa tidak berlaku harga perolehan?

    Mengapa menggunakan harga pasar?
    Mengapa tidak konsisten diterapkan konsep perolehan ini?

    Saya tak bisa menjawabnya walaupun saya punya pandangan sendiri

    Perolehan Aset Tetap dari Sumbangan atau Hadiah ( Donation of Discovery )


    Aktiva tetap yang diperoleh dari hadiah harus diakui sebesar nilai pasar wajarnya dan apabila dalam menerima hadiah atau sumbangan tersebut dikeluarkan biaya, maka modal hadiah akan berkurang sebesar biaya tersebut.

    Contoh :

    PT. Foraz memperoleh sumbangan atau hadiah dari pemerintah berupa tanah dan bangunan dengan nilai masing-masing Rp. 40.000.000,00 dan Rp. 60.000.000,00

    Jurnal :

    Debit | Land Rp40.000.000
    Debit | Building Rp60.000.000
    Kredit | Donated Capital Rp100.000.000


    Apabila dalam menerima hadiah tersebut dikeluarkan biaya Rp. 2.000.000,00 maka jurnalnya :

    Debit | Land Rp40.000.000
    Debit | Building Rp60.000.000
    Kredit | Donated Capital Rp98.000.000
    Kredit | Cash Rp2.000.000


    Selesai sudah pembahasan mengenai Perlakuan Akuntansi Perolehan Aset Tetap, semoga tulisan ini bisa bermanfaat, jika ada yang belum dimengerti, silahkan ditanyakan, pasti saya akan kabur..


      Perolehan Aset Tetap Berwujud Dibangun Sendiri

      Perolehan Aktiva Tetap - Aset Tetap bisa diperoleh dengan bermacam cara, beberapa diantaranya ialah: dibeli secara Tunai, dicicil (kontrak jangka panjang), pertukaran, dibangun sendiri maupun dengan saham. Untuk penjelasan mengenai perolehan aset tetap, silahkan baca positingan saya sebelumnya tentang Perolehan Aset Tetap

      Pada postingan sebelumnya juga, sudah saya bahas mengenai Perolehan Aset Tetap yang di peroleh dibeli secara Tunai, silahkan bisa di baca di perolehan aset tetap secara pembelian tunai. Perolehan aset tetap yang diperoleh dengan kontrak jangka panjang (dicicil) dan pertukaran, silahkan baca di perolehan aset tetap pertukaran

      Perolehan Aset Tetap Di Bangun Sendiri


      aktiva dibangun sendiri
      Perolehan Aset Tetap Dibangun Sendiri

      Untuk aset bangunan sering juga diperoleh dengan dibangun terlebih dahulu, tidak membeli bangunan siap pakai. Pada dasarnya, perolehan aset tetap yang dibangun sendiri seperti bangunan sering kali terbagi menjadi dua proses, pertama dibangun menggunakan jasa kontraktor (istilahnya diborongkan) proyeknya, yang kedua dibangun sendiri, tidak diborongkan kepada pihak lain.

      Jika perolehan aset tetap diborongkan kepada pihak lain, maka harga perolehan aset tetap tersebut diakui sebesar nilai kontraknya, sesuai kontrak dengan kontraktor yang mengerjakan proyeknya. dan jika dibangun sendiri, maka harga perolehan aset tetap diakui sebesar seluruh pengeluaran atas pembangunan aset tersebut misalkan pembangunan gedung, pabrik tersebut. Dalam pembuatan aset tetap yang tidak diborongkan, biaya biaya seperti upah langsung, bahan material dan biaya produksi langsung dibebankan kedalam harga perolehan.

      Jika perolehan aset dengan cara diborongkan, maka akan mudah untuk menentukan harga perolehannya, begitu juga dengan yang dibangun sendiri, tinggal menambahkan semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, tapi,......
      Kasus yang lumayan pelik dalam penentuan perolehan aset tetap yang dibangun sendiri adalah, Seandainya pembangunan aset tetap terjadi saat perusahaan sedang beroperasi?

      Apanya yang menjadi masalah pelik?

      Dalam pembangunan tentu ada banyak pengeluaran, dan pada waktu yang sama pula perusahaan juga sedang beroperasi, sedang melakukan aktivitas produksi, yang juga banyak terjadi pengeluaran biaya di site pembangunan yang searea, pengeluaran bisa campur aduk antara biaya operasional produksi vs biaya pembangunan gedung.

      Ok, pengeluaran yang terjadi selama masa pembangunan sama saja dengan pengeluaran-pengeluaran proses produksi di perusahaan, yang terdiri dari 4 kelompok pengeluaran besar :
      • Bahan langsung (material)
      • Upah langsung (direct labour)
      • Biaya Tak langsung (overhead)
      • Biaya operasional (expenses)

      Pengeluaran bahan langsung: OK,  ini mudah untuk dipisahkan, tak ada masalah serius.

      Pengeluaran Upah langsung: Ok, inipun mudah untuk dipisahkan, 

      Pengeluaran Biaya tak Langsung dan Biaya Operasional, Nah ini mungkin agak sulit untuk dipisahkan. hampir pasti perusahaan akan memakai sumber daya yang sama untuk post pengeluaran ini.

      Contohnya: penggunaan air, pemakaian telepon, pemakaian listrik, transportasi, biaya satpam, peralatan tertentu, atau bahkan menugaskan karyawan/staf khusus yang bekerja dioperasional perusahaan juga bertugas mengawasi proyek pembangunan aset tetap.

      Termasuk akuntan (staff accounting), selain menghandle keuangan dan pembukuan perusahaan yang sedang beroperasi juga harus membukukan semua transaksi yang muncul akibat proses pembangunan aset juga.

      Lalu Bagaimana memisahkannya?

      Kita menggunakan INCREMENTAL METHOD untuk menjawab masalah ini yaitu dengan cara membandingkan selisih overhead cost antara overhead/expenses sebelum dan sesudah adanya kontruksi pembangunan aset.

      Contoh Kasus :

      PT Foraz sejak 6 Juni 2014 melakukan perluasan pabrik dengan membangun gedung baru. PT Foraz sudah sejak 10 tahun yang lalu produksinya. Dari Laporan Rugi laba PT. Foraz, didapat data sebagai berikut :

      perolehan aktiva tetap dibangun sendiri
      Perolehan aset tetap dibangun sendiri
      Dengan meliihat perbandingan data tersebut, maka porsi alokasi yang perlu dikapitalisasi bisa ditentukan seperti terlihat dikolom terakhir pada table dibawah ini :

      perolehan aset tetap dibangun sendiri
      perolehan aset tetap dibangun sendiri

      Jurnalnya sudah bisa kita buat

      Debit | Electricity 450
      Debit | Building 50
      Credit | Cash 500

      Debit | Water Supplies 250
      Debit | Building 50
      Credit | Cash 300

      Debit | Thelephone 200
      Debit | Building 50
      Credit | Cash 250


      Debit | Overtime 13.000
      Debit | Building 2.000
      Credit | Cash 15.000


      Debit | Office Supplies 250
      Debit | Building 150
      Credit | Cash 400


      Debit | Petrol 50
      Debit | Building 50
      Credit | Cash 100

      Apabila ada pertanyaan ataupun kritik serta koreksi, silahkan tinggalkan dikolom komentar, sekian dulu pembahasan mengenai Perolehan Aset Tetap Dibangun Sendiri , jika merasa ada yang kurang paham silahkan ditanyakan di kolom komentar. baca juga : Aktiva diperoleh dari surat berharga (saham/obligasi)